MusimBokep : Ketika Istriku Sedang Tertidur

Musimbokep

- Sebuah insiden baru terjadi berbagai malam yang lalu. Insiden yang tidak disengaja yang membangunkan sesuatu yang tanpa kusadari telah ada di dalam diriku. Kamis malam kemarin kawanku yang bernama Lilo mampir untuk mengobrol, minum serta nonton TV di rumahku. Lilo bekerja di kantor yang sama denganku. Hari Jumat keesokannya adalah hari libur untuk kantor kami jadi kami mendaptkan 3 hari libur di akhir minggu tersebut. Sebab itulah kami tidak terburu-buru menghabiskan malam itu. Tidak sama dengan istipsu, Sandra; ia wajib bekerja esok harinya. Serta sebab tergolong orang yang tidak suka tidur larut malam, ia berangkat tidur kurang lebih pukul 10:30. Sandra adalah salah satu orang yang paling lelap saat tertidur.
Berbagai kali aku sempat mencoba mengguncang-guncangkan bahunya untuk membangunkannya, tetapi rutin gagal. Ia terus tertidur. Seusai Sandra berangkat tidur, Lilo serta aku duduk di ruang tamu serta melihat DVD porno yang sengaja kami beli. Lagipula Sandra juga tidak sempat suka melihat film-film semacam itu. Seusai berbagai adegan, Lilo mengatakan, “Wah, tentu enak yah kalo punya cewe untuk diajak ngeseks! Udah lama banget nih, gue kagak begituan!” Aku sedikit kaget mendengar komentarnya. Lilo bukanlah pria yang kurang baik rupa. Setinggi 175 cm serta berat kurang lebih 70 kg, aku malah menduga ia mempunyai tidak sedikit kawan wanita. “Emangnya elu lagi ga jalan sama siapa-siapa, Lo?” tanyaku. “Kagak. Sejak Bunga putus sama gue 2 taon yang lalu, gue agak-agak malu untuk ajak cewe jalan,” jawabnya. Kami mengobrol mengenai Bunga yang nyatanya tidak serius dengan Lilo. Seusai berbagai botol bir serta berbagai adegan dari film porno yang kami tonton, Lilo bangkit berdiri untuk berangkat kencing.

Aku tetap duduk sambil melihat film itu untuk berbagai saat serta akhirnya baru menyadari bahwa Lilo belum kembali seusai lumayan lama berangkat kencing. Aku berdiri serta menghampirinya untuk mengecek apakah ia baik-baik saja. Saat aku berada pada jarak yang lumayan dekat dengan WC, aku melihat pintu itu terbuka. Aku masuk ke WC serta mendapati Lilo berdiri di pintu yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Ia terlompat melihat aku masuk.

“Wah, sorry banget nih,” katanya. “Waktu gue masuk, pintu ini terbukti udah terbuka. Serta waktu gue mau keluar, gue liat dirinya terbaring semacam itu.” Aku berlangsung mendekati tempat Lilo berdiri serta melihat ke arah kamar tidurku. Sandra terbaring menyamping jadi punggungnya menghadap ke arah kami dengan kaki yang sedikit tertekuk. Sandra tidur dengan mengenakan daster panjang tetapi tahap bawahnya tersingkap hingga ke pinggul jadi menampakkan bulatan pantat yang halus, mulus serta terkesan tidak mengenakan celana dalam. Pundaknya sedikit tertarik ke belakang jadi menunjukan kami segi bukit dadanya serta tonjolan puting susunya dari balik daster yang sedikit tembus pandang. Ia terkesan sangat seksi terbaring semacam itu dengan remang-remang cahaya dari WC. Bibirnya sedikit terbuka serta rambutnya yang panjang terhampar di atas bantal. Boleh dibilang posisi Sandra saat itu semacam sedang berpose untuk pemotretan majalah dewasa.

“Gila! Cakep banget!” kata Lilo sambil menahan nafas. “Gue mau disuruh apa aja untuk memperoleh cewe semacam dia, Kris.” Pada awalnya aku sedikit kesal mendengar perkataan Lilo. Tetapi pada saat yang bersamaan, melihat Lilo memandang istipsu semacam itu tanpa sepengetahuan Sandra justru membikin diriku terangsang. “Aduh, sorry nih, Kris. Gue rasa udah waktunya buat gue untuk pulang,” kata Lilo berbalik badan untuk keluar. “Eh, tunggu, Lo,” kataku. “Ayo masuk ke sini sebentar aja. Tapi jalannya pelan-pelan, oke?” “Ha?! Elu mau gue masuk ke kamar elu?” “Kalo cuma lihat doang mah ga ada yang dimenyesalkan, kan? Tapi kami engga boleh buat dirinya terbangun, oke?”
Bahkan aku sendiri tidak percaya apa yang baru saja aku katakan. Aku mengijinkan pria lain masuk ke kamar tidurku jadi ia bisa melihat istipsu yang dalam kondisi ‘setengah’ telanjang. Aku pun tetap tidak yakin apa serta sejauh apa yang bakal aku lakukan berikutnya.

Saat kami berjingkat memasuki kamarku, aku mendorong Lilo untuk mendekat ke samping ranjang. Bahkan Lilo sendiri terkesan tidak yakin. Pandangannya berpindah-pindah antara aku serta Sandra. Terus mendekat ke ranjang, pandangannya lebih terarah ke Sandra. Sandra berbaring di pinggir ranjang di segi tempat kami berdiri serta terus kami mendekat, kedua bukit payudaranya terus jelas terkesan.
Puting susunya bisa terkesan dari balik dasternya yang tipis. Meski tahap bawah dasternya telah tersingkap tetapi kami tetap belum bisa melihat bibir vaginanya sebab tertutup oleh kakinya.
Aku hanya berdiri di sana dengan cengiran lebar memandangi Lilo serta istipsu bergantian. Dengan mulut ternganga, Lilo juga hanya memandangi istipsu dengan takjub serta kagum. “Gila, Kris. Seksi banget sih! Gue ga percaya elu kasih gue liat bini elu dalam kondisi begini!”
Dengan hati-hati aku meraih tali daster Sandra serta luar biasanya turun melalui pundaknya turun ke lengan jadi tahap atas dasternya tersingkap serta menunjukan lebih tidak sedikit lagi tahap payudaranya. Gerakanku terhenti saat kain tahap atas daster itu tertahan oleh puting Sandra.”Mau lihat lebih tidak sedikit?” aku berbisik.

“I-iyah!” Lilo berbisik balik. Dengan sangat lembut aku mencoba untuk menurunkan tali daster itu lagi tetapi puting susunya tetap menahan kain itu jadi tidak bisa terbuka lebih jauh. Aku menyelipkan jari-jariku ke bawah daster tersebut lalu dengan hati-hati mengangkatnya sedikit melalui puting Sandra. Lilo menahan nafasnya tanpa bersuara. Kini payudara kirinya telah terbuka. Putingnya yang sangat halus serta berwarna merah muda itu berdiri tegang sebab mendapat rangsangan dari gesekan kain dasternya tadi. Lalu aku meraih ke tali dasternya yang lain serta meloloskannya dari pundak kanan Sandra. Dengan lembut aku hebat kain daster itu melalui puting sebelah kanannya. Saat ini kami bisa melihat kedua payudara Sandra tanpa ditutupi benang sehelaipun. Aku membiarkan kedua tali dasternya menggelantung di lengan dekat sikunya sebab aku tidak mau mengambil resiko kalau-kalau istipsu terbangun. Lilo tetap berdiri di sampingku serta dengan mulut yang tetap ternganga ia menatapi payudara serta pantat Sandra yang kencang. Sesekali Lilo mengusap-usap tonjolan di selakangannya meski ia berusaha supaya aku tidak melihatnya. Penisku sendiri telah membesar serta berusaha memberontak keluar dari jahitan celana jeans yang kupakai. 

Aku terangsang bukan hanya sebab melihat tubuh istipsu tetapi juga sebab apa yang sedang kulakukan. “Jadi, bagaimana menurut elu?” aku berbisik lagi. “Gila, man! Gue ga percaya semua ini! Dirinya cantik banget! Gue sih cuma berharap…,” jawabnya sambil mengusap tonjolan penisnya sendiri. Aku berpikir sejenak, “Kalau hingga ia terbangun…, tapi lagipula aku terbukti bakal mencobanya.”
Aku hebat Lilo terus mendekat ke ranjang lalu aku menunjuk ke payudara istipsu. “Ayo, pegang susunya. Tapi wajib dengan lembut, oke? Gue nggak mau ambil resiko nih.” Mata Lilo terbuka lebar sekali lalu mendekatkan dirinya ke tepi ranjang. Ia membungkuk sedikit serta menjulurkan tangan kirinya untuk meraih bulatan payudara istipsu. Tangannya sedikit bergetar serta tangan kanannya ditekankan di selangkangannya seakan dipakainya sebagai penopang. Tapi aku tahu apa yang sebetulnya ia kerjakan. Jari-jari itu dijulurkan makin lama terus mendekat hingga akhirnya ujung jarinya menyentuh kulit payudara Sandra cocok di bawah areola. Dengan hati-hati Lilo meletakkan bunda jarinya di tahap bawah payudara Sandra sebelum akhirnya ia geser perlahan-lahan naik ke puting susu tersebut. Sandra tidak bergerak. Saat bunda jarinya mencapai tahap areola, Lilo menggerakkan telunjuknya melingkari puting Sandra dengan lembut.

Aku kenal Sandra sejak jaman tetap bersekolah. Kami berpacaran sejak saat itu serta akhirnya kami menikah. Serta dalam sepengetahuanku, tidak sempat ada pria lain yang sempat melihat tubuh Sandra hingga sejauh ini apalagi menyentuhnya. Lalu Lilo mulai meraba payudara itu dengan sangat lembut dari yang satu berpindah ke payudara yang lain. Sandra tetap tidak bergerak dalam tidurnya mesikipun semacamnya terkesan nafas Sandra menjadi lebih cepat. Lilo mulai menjadi lebih berani serta dengan meningkatkankan sedikit tenaga, ia meremas kedua buah dada Sandra. Lilo telah tidak menutup-nutupi usahanya untuk mengusap-usap penisnya serta kelihatannya ia berniat untuk menyemprotkan spermanya dari balik celananya. Aku tetap belum puas untuk membiarkan semua ini beres saat itu, jadi aku menyuruhnya mundur sejenak sementara aku melepaskan tali-tali daster itu dari lengan Sandra. Aku hebat turun daster itu sejauh yang aku bisa tanpa wajib hebat dengan cara paksa kain daster. 

Aku sukses membuka tubuh tahap atasnya hingga dibagian bawah tulang rusuknya sebelah kiri. Lalu aku bergerak ke tahap pinggulnya. Dengan hati-hati aku hebat kain yang menutupi tahap bawah pantatnya lalu melepaskan kain itu dari kakinya yang menekuk. Faktor ini menunjukan seluruh pantatnya serta sebagian dari bibir vaginanya. Lilo tetap belum bisa melihatnya dari tempat ia berdiri saat ini. Aku mendengar ia sedang melakukan sesuatu di belakangku. Serta begitu berbalik badan, aku mendapatinya sedang memelorotkan celana jeansnya sebatas testisnya jadi ia bisa leluasa mengocok penisnya. Aku kembali berbalik ke Sandra lalu meluruskan kaki kirinya. Faktor ini membikin bulu-bulu halus kemaluannya bisa terkesan bahkan hingga hampir ke bibir vaginanya. Saat melihat aku melakukan faktor ini, Lilo melongokkan badannya melalui badanku untuk melihat tubuh Sandra lebih jelas sementara ia bermasturbasi. Aku hebat kaki kiri Sandra dengan lembut jadi membikin tubuhnya berbaring terlentang menghadap ke atas serta menunjukan seluruh tubuhnya dengan cara frontal.
“Wahhhh, gila, man!” Lilo berbisik serta mulai mengocok penisnya lebih cepat.

“Jangan cepet-cepet, brur,” aku memperingatkan dia. “Elu mau pegang memeknya sebelum elu klimaks, kan?” Langsung Lilo berhenti mengocok serta menatapku dengan pandangan semacam anak kecil yang dihadiahi sepeda baru. “Mantap, man! Elu kasih gue…, ahhh, mantap, man!” Ia mengganti tangan kanan dengan tangan kirinya untuk memegang penisnya, tapi tidak mengocoknya. Lalu dengan tangan kanannya, yang sedari tadi dipakai untuk mengocok penisnya, ia menyentuh bulu-bulu kemaluan Sandra dengan perlahan. Lilo mulai membelai Sandra melalui bulu-bulu itu dengan jemarinya. Tetapi tidak hingga ke bibir vaginanya. Sandra tetap terlelap tetapi nafasnya terus bertambah cepat seusai Lilo mengusap-usap kemaluannya. Seusai itu dengan memakai jari tengah serta telunjuknya, Lilo mengusap turun ke sepanjang bibir vagina Sandra lalu mengusap naik lagi sambil menaruh jari tengahnya di antara bibir kemaluan tersebut. Begitu ia hebat tangannya ke atas, jari tengahnya membuka bibir vagina itu serta wangi harum vagina Sandra mulai memenuhi kamar.”Gilaaaaa, man!” desah Lilo sambil hebat ke atas jari-jarinya yang telah masuk sedikit ke dalam liang kewanitaan istipsu.Saat jari Lilo menyentuh klitorisnya, tubuh Sandra seakan tersentak sedikit lalu ia mendesah dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Melihat faktor ini Lilo segera hebat tangannya.

Aku melihat bahwa istipsu tetap terlelap tetapi aku tidak yakin apakah lakukanan ini bisa membangunkannya alias tidak. Lilo menatap aku serta aku menganggukkan kepalaku memberi isyarat bahwa ia bisa melanjutkan. Lalu dengan memakai tangan kirinya, Lilo mengocok penisnya hingga cairan pelumas keluar dari ujung penisnya. Lilo menyapu cairan yang keluar lumayan tidak sedikit membasahi kepala penisnya kemudian dengan tangan yang sama ia mulai mengusap-usap bibir kemaluan Sandra. Kadang ia membuka bibir vagina tersebut dengan jari tengahnya. Sesekali pinggul Sandra bergerak maju serta mundur sedikit serta ditambah dengan desahan lembut yang keluar dari mulutnya. Lilo telah mengocok penisnya lagi. Lalu tiba-tiba sebuah ide muncul dalam otakku.

Dengan hati-hati aku hebat kaki kiri Sandra keluar dari ranjang hingga vaginanya berada tidak jauh dari ujung ranjang tetapi tetap lumayan jauh bagi Lilo untuk menyetubuhi istipsu. Penis Lilo tidak sepanjang itu serta lagipula aku tidak yakin apakah persetubuhan bisa membangunkannya. Serta juga aku tidak yakin apakah aku ingin Lilo menyetubuhi istipsu sebab faktor ini tetap baru buatku.
“Lo, ke sini deh,” aku berbisik sambil hebat lengannya. “Berdiri di antara pahanya. Dari sini elu bisa lebih leluasa mengusap-usap memeknya sambil ngocok. Tapi jangan ngentotin dia, ya? Elu denger, engga?” Lilo mengangguk serta segera pindah ke antara kedua paha Sandra. Lilo mengusap-usap vagina Sandra dengan jari-jari tangan kirinya serta mengocok penisnya dengan tangan kanan. Penis Lilo hampir sejajar tingginya dengan vagina Sandra serta berjarak kurang lebih 10 cm sementara ia mengocok penisnya dengan penuh nafsu. Lalu Lilo memakai bunda jarinya untuk mengusap-usap vagina Sandra jadi ia bisa lebih mendekat lagi hingga pada akhirnya jarak antara penis serta vagina Sandra tidak lebih dari 1½ cm.

Pinggul Sandra tetap sedikit bergoyang-goyang sesekali serta pada satu saat, pinggul Santi bergerak ke bawah serta kepala penis Lilo bersentuhan dengan bibir vagina Sandra. Penis Lilo menggesek sepanjang bibir kemaluan istipsu. Faktor ini membikin Lilo meledak serta berejakulasi. Spermanya muncrat ke mana-mana serta sebagian besar tersemprot ke bibir vagina Sandra. Pada setiap semprotan, Lilo melenguh serta berbagai kali dengan ‘tanpa disengaja” ia menorehkan kepala penisnya ke tahap atas dari bibir vagina istipsu. Lilo tentu telah lama tidak berejakulasi sebab sperma yang dikeluarkannya begitu tidak sedikit. Saat beres klimaks, Lilo mengurut penisnya untuk mengeluarkan lelehan sperma yang tetap tersisa di saluran penisnya. Ia membiarkan lelehan itu jatuh ke bibir vagina Sandra yang sedikit terbuka. Serta saat mengalir ke bawah di sepanjang bibir vagina tersebut, terkesan lelehan itu masuk lalu menghilang begitu saja semacam tertelan bumi.

Lilo memandangku serta berbisik, “Gilaaaa, man! Gue ga tau tutorial berterima kasih sama elu, Kris!”
Aku tersenyum kepadanya serta memapahnya mundur dengan cara ia telah beres dengan urusannya.Sekarang saatnya giliranku. Aku berdiri di antara kakinya lalu melepaskan celanaku serta mulai mengocok penisku. “Lilo, elu keluar sebentar deh. Gue mau coba tarik badannya lebih ke pinggir supaya gue bisa ngentotin dia,” aku berbisik dengan lebih kencang. Lilo menurut serta berlangsung menuju pintu kamar kalau-kalau istipsu terbangun. Aku hebat tubuhnya hingga pantat sebelah kirinya menggantung di pinggir ranjang. Selama itu Sandra tidak bangun sama sekali tetapi nafasnya tetap berat serta dari vaginanya keluar cairan pelumas dari tubuhnya bercampur dengan sperma Lilo. Lalu aku menyuruh Lilo masuk ke kamar lagi untuk menolongku dengan menyangga kaki serta pantat kiri Sandra jadi tanganku bisa kugunakan dengan bebas. Lilo meraih kaki kiri Sandra dengan tangan kirinya lalu dengan tangan kanannya ia menopang pantat Sandra. Aku melihat ia meremas pantat istipsu saat ia mencoba menopangnya. Serta aku mulai menggesek-gesekkan penisku naik serta turun ke bibir vaginanya yang telah basah. Vaginanya sangat amat basah. Cairan vagina Sandra yang bercampur dengan sperma Lilo, membikin liang kewanitaan Sandra menjadi sangaaaat licin. Bahkan aku telah hampir klimaks jadi aku dengan perlahan memasukkan batang penisku ke dalam liang kemaluan Sandra yang panas.

Walau telah sangat basah tetapi liang vagina Sandra tetap sangat sempit dengan cara Lilo tidak sempat melakukan penetrasi. Bakal tetapi penisku bisa menembus dengan mudah. Segera aku memompa vagina Sandra serta seusai kurang lebih 10 pompaan maju mundur, Sandra mengalami orgasme dalam tidurnya!!! Faktor ini telah lumayan membikinku melambung mencapai klimaks. Aku mulai menyemprotkan cairanku masuk ke dalam vaginanya serta tiap muncratan seakan tersembur langsung dari buah zakarku. Sandra mengerang-erang dalam tiap desahannya serta begitu pula aku.

Lilo mengatakan, “Gilaaaa, man!” tetapi hari ini ia tidak berbisik. Faktor ini tidak jadi persoalan sebab Sandra tidak bangun sedikitpun selama kami menggarap tubuhnya. Ketika aku hebat penisku, Lilo menaruh pantat serta kaki Sandra kembali ke ranjang. Lalu ia menunduk menjilati serta mengecup puting susu Sandra serta menyedotnya saat ia kembali menegakkan badannya. Aku telah terlalu lemas untuk berkomentar serta akhirnya aku hanya hebat tangannya untuk keluar kamar. Saat aku berlangsung mengantarnya ke luar rumah, Lilo tidak habis-habisnya berterima kasih kepadaku. Aku mengayunkan tangan lalu mengunci pintu. Aku masuk ke kamar, berbaring di atas ranjang di samping Sandra serta langsung terlelap begitu saja.

Keesokan harinya, Sandra membangunkanku dengan mencium telingaku. “Elu ga bakalan percaya apa yang gue mimpiin kemarin malam!” katanya membuka pembicaraan. “Gue bermimpi ada tidak sedikit tangan yang meraba-raba badan gue. Ngomong-ngomong, kemarin malam kami ngapa-ngapain ga, yah?” Aku teringat kalau aku tidak sempat membersihkan sperma yang tercecer di tubuhnya serta di ranjang sebelum berangkat tidur kemarin. “Eeehhh…, iya lah. Terbuktinya elu engga ingat apa-apa?”
“Yaah…, gue ga tau yah. Semuanya kaya dalam mimpi gitu. Mungkin gue setengah tidur kali. Tapi yang tentu asyik deh. Bagaimana? Apa elu berniat untuk melakukannya sekali lagi kini selama gue ga ketiduran?” Pikiranku melayang ke kejadian kemarin malam…, “Hmmmm, bagaimana yah? Menurut elu bagaimana?” aku tersenyum.

Pada minggu berikutnya di kantor aku terus memikirkan malam itu dimana Lilo hampir menyetubuhi istipsu, Sandra. Aku serta Lilo tidak sempat menyinggung faktor itu meski berbagai kali kami saling melepas senyum. Lilo melemparkan senyum penuh rasa terima kasih kepadaku.
Wajib kuakui, aku telah menjadi terobsesi dengan ide melihat istipsu disetubuhi pria lain. Tetapi tetap ada perasasan yang mengganjal. Melihat Lilo bermasturbasi di depan Sandra malam itu sangatlah tidak menjadi persoalan bagiku. Tetapi bisakah aku menerima melihat pria lain sangatlah berhubungan seks dengan istipsu? Menjelang akhir minggu aku bisa melihat pandangan penuh harap dari wajah Lilo. Aku tahu apa yang ia pikirkan: “Apakah Kris bakal ngundang gue datang ke rumahnya lagi?”, “Apakah gue bisa bisa peluang dengan istrinya?”
Hari Jumat akhirnya tiba serta sebelum jam pulang kantor aku mengundang Lilo untuk berkunjung lagi ke rumahku. Kegembiraan yang besar meluap dari diri Lilo.

“Yeahhhhh! MANTAP!!! Gue bakal bawa bir serta berbagai film untuk kami tonton!” katanya dengan penuh semangat. “Oke. Datang jam 9-an deh,” jawabku. Aku tahu pada saat itu Sandra tentu telah mulai mengantuk serta kehadiran Lilo bakal mendorongnya untuk berangkat tidur lebih cepat dengan cara ia tidak begitu suka berteman dengan Lilo. Aku merasa geli sesaat membayangkan faktor itu. Apabila saja Sandra tahu apa maksud kedatangan Lilo, ia tentu tidak bakal tidur sepanjang malam, setidaknya hingga Lilo pulang.

Lalu aku melakukan sesuatu yang mengangetkan diriku sendiri. “Hey, Jo! Apa yang elu kerjakan malam ini?” aku bertanya. Josua adalah pribumi berkulit gelap. Tinggi badannya mencapai 190 cm dengan berat badan bisa mencapai 90 kg. Josua bukan seorang yang gemuk tetapi ia mempunyai tubuh yang besar serta kekar. “Ah, ga tidak sedikit. Kenapa? Elu ada agenda apa?” ia balik bertanya. “Kurang lebih jam 9 malam kelak Lilo bakal datang ke rumah gue untuk main-main. Minum, ngobrol, apa aja deh. Kalo engga salah denger dirinya bilang dirinya bakal bawa film-film BF. Gimana, tertarik?” “Boleh, tapi mungkin gue bakal terlambat. Gue musti kerjain sesuatu untuk bokap, tapi ga lama deh,” jawabnya. “Engga persoalan. Oke hingga ketemu nanti,” aku mengatakan sambil berpikir mungkin terbukti ada baiknya Josua datang seusai Sandra tertidur.

Aku menoleh serta melihat wajah Lilo yang terkejut, tetapi terkejut dalam nuansa yang menggembirakan. Aku tersenyum serta sambil mengedipkan mataku aku berlangsung melaluinya, “Sampai nanti, Lo!” Malam itu saat makan malam, aku terus memikirkan rencana malam nanti. Aku membeli sebotol anggur serta meminumnya bersama Sandra dengan andalan ia bisa tertidur pulas malam itu. Semacam yang aku harapkan, tidak memerlukan waktu yang lama hingga Sandra mulai cekikikan sebab pengaruh anggur yang ia minum. Sebuahkeuntungan yang tidak terduga anggur tersebut juga memberbagi efek yang menstimulasi tubuhnya.

Dari bawah meja, Sandra mulai menggesek-gesekkan kakinya yang terbalut stoking ke pahaku. Kemudian seusai berbagai gelas anggur lagi, sambil melihat TV Sandra duduk menghadapku dengan satu kaki diletakkan di lantai serta kaki lainnya ditekuk jadi ia mendudukinya. Faktor ini menyebabkan roknya yang pendek tertarik ke atas jadi menunjukan pahanya serta ujung stokingnya.
Ia membuka kakinya sedikit untuk menunjukan kepadaku celana dalamnya saat bel pintu rumahku berbunyi. “Aaaah!” ia memprotes. Aku bangkit berdiri untuk membukakan pintu. “Siapa yah yang datang malam-malam begini?” aku bertanya seakan tidak tahu bahwa yang datang adalah Lilo.

Seusai aku membuka pintu, Lilo masuk dengan kantong plastik di tangannya. Ia berdiri di samping pintu seusai aku menutup pintu itu. Lilo memandang Sandra serta mulai berbasa-basi dengannya. Saat kembali ke tempat dudukku, aku menyadari bahwa Sandra tetap dalam posisi yang sama. Sandra duduk menghadap kami sambil memain-mainkan rambutnya. Ia sangatlah tidak sadar sedang menunjukan terlalu tidak sedikit tahap tubuhnya terhadap Lilo saat ia duduk di sana dengan wajah yang terkesan sedih. Lilo hanya berdiri mematung di sana sementara mereka saling berpandangan. Sandra memandangnya dengan pandangan kosong sedangkan Lilo memandangnya dengan pandangan tidak percaya. Tiba-tiba Sandra tersadar bakal posisi duduknya serta cepat-cepat berbalik lalu menurunkan roknya. “Ayo duduk, Lo. Sini…, gue taruh di kulkas dulu,” kataku sambil mengambil kantong plastik yang berisi bir lalu berlangsung ke dapur. Saat sedang memasukkan bir-bir itu ke dalam kulkas, terdengar olehku Lilo mengatakan terhadap Sandra bahwa ia berharap kedatangannya tidak mengganggu agenda aku serta Sandra. “Oh enggak,… nggak apa-apa kok,” terdengar jawaban Sandra. Aku tahu benar untuk bersikap sopan, Sandra membohongi Lilo. “Kita cuma duduk-duduk sambil nonton TV doang kok,… serta telah berniat untuk tidur.”

Aku tahu Sandra mencoba untuk memberi isyarat terhadap Lilo bahwa kedatangannya telah mengganggu kami. Sandra terbukti tidak tahu apa-apa mengenai rencana kami malam ini. “Apa rencana elu malam ini, Lo?” sambil memberi bir, aku bertanya terhadap Lilo seusai kembali dari dapur. “Ah, nggak tidak sedikit lah. Cuma mampir untuk minum-minum sedikit.” “Boleh-boleh aja. Gimana menurut elu, San?” aku bertanya sambil memandangnya. Wajah Sandra menunjukkan kalau ia telah pasrah bahwa Lilo bakal tetap tinggal hingga larut malam. “Ya telah, kalau begitu gue permisi dulu deh. Gue tidur duluan yah,” jawabnya serta bangkit dari sofa. “Keren!” pikirku, semua sesuai dengan rencana. “Oke, San. Gue nyusul nanti,” kataku sambil tersenyum terhadap Lilo. Dengan mulutnya, Lilo melafalkan tanpa suara, “Gue juga!” seusai Sandra berlangsung melaluinya menuju kamar tidur. Seusai Sandra masuk ke kamar, Lilo serta aku duduk menatap TV dengan pandangan kosong. Tidak satupun dari kami yang membuka suara. Suasana saat itu menjadi tegang penuh harap apa yang bakal terjadi nanti.

Kurang lebih pukul 10 malam, aku mendengar Josua memarkirkan mobilnya di depan rumah. Aku berdiri serta membuka pintu sebelum ia membunyikan bel. Sebetulnya aku tidak berpikir suara bel rumah kami bakal membangunkan Sandra, tetapi aku tidak mau ambil resiko. Pada awalnya kami bertiga mengobrol sana-sini seusai Lilo memutar film yang dibawanya. Josua tetap tidak tahu menahu mengenai rahasia kecil kami. Aku sendiri tetap belum yakin benar untuk mengikutsertakan Josua ke dalam rencana malam ini. Seusai 15-20 menit, aku melihat Lilo mulai gelisah. Berulang kali Lilo terkesan beringsut dari tempat duduknya serta memandangku seakan berharap mendapat kode persetujuan untuk mengawali agenda malam itu. “Gue permisi sebentar yah,” kataku sambil berdiri menuju kamar serta memberi isyarat terhadap Lilo untuk tetap duduk di tempatnya. Aku mau memastikan semuanya telah pada tempatnya sebelum agenda dimulai. Dengan hati-hati aku berlangsung masuk ke kamar. Sandra tidur terlentang di ranjang dengan memakai daster imut yang semi transparan. Aku rasa anggur yang diminumnya tadi telah bereaksi dalam tubuhnya dengan cara Sandra tidur dengan kaki yang agak mengangkang serta kedua lengannya tergeletak di atas kepalanya. Sandra terkesan sangat cantik terbaring di sana dengan mulut yang sedikit terbuka (semacam biasanya) serta rambut yang tergerai di atas bantal. Buah dadanya telah bisa terkesan dari balik kain dasternya yang tipis, menjulang semacam dua gunung kembar.

Nampaknya semua telah siap tanpa aku wajib berbuat apa-apa. Aku bergerak menuju pintu WC dengan perlahan lalu membukanya sedikit jadi kamar itu sedikit lebih terang oleh cahaya lampu dari WC. Lalu aku keluar bergabung dengan Lilo serta Josua yang tetap melihat film porno yang sedang diputar. “Jo, elu mau bir lagi?” tanyaku berharap supaya ia segera berangkat kencing. “Boleh, thanks!” jawabnya. Lilo mengikutiku berlangsung ke dapur serta segera menghamburkan pertanyaannya, “Elu mau gimana kerjainnya?” “Ya, gue rasa kami musti tunggu Josua berangkat ke WC dulu untuk kencing. Trus, barulah kami berdua masuk ke kamar serta melihat apa yang bakal dirinya lakukan.”
Lilo tersenyum serta kembali ke ruang tamu. Kami tetap melihat berbagai menit seusai itu serta mengomentari adegan-adegan di film tersebut. Tidak lama seusai itu Josua mengatakan, “Eh, Kris,… WC elu dimana?” “Tuh di sana,” kataku sambil menunjuk ke arah WC. Aku berusaha supaya suaraku tidak terdengar terlalu antusias. Josua berlangsung menuju WC. Seusai aku mendengar pintu WC dikunci, aku serta Lilo bergegas menuju kamar. Seusai berada di dalam kamar, pandangan Lilo melekat ke tubuh Sandra yang terbaring di atas ranjang. Josua tidak menutup pintu yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Mungkin ia tidak menduga bakal ada orang lain di sana.

Saat ia beres, aku bisa mendengar ia hebat resletingnya serta bersiap keluar WC. Tiba-tiba aku mendengar Josua berhenti. Tentu ia telah melihat Sandra. Ia seakan berdiri berjam-jam di sana sambil memandang istipsu terbaring di ranjang dengan payudaranya yang terkesan jelas dari balik daster transparan yang dipakainya, naik turun mengikuti irama nafasnya.

“Bangsaaattt!” aku mendengar Josua berbisik. Aku tidak bisa menahan geli serta tergelak. Josua mendengar suaraku serta melongokkan kepala masuk ke kamar serta mendapati kami sedang berdiri di sana. Segera aku menempelkan telunjuk ke bibirku serta menyuruhnya untuk tidak bersuara. Aku mengajaknya masuk. “Itu bini elo, Kris?” ia berbisik lagi. Aku mengangguk lalu menuntunnya menuju segi ranjang. Lilo mengikut dari belakang serta berdiri di sebelah kiriku saat kami bertiga memandangi tubuh istipsu dari jarak dekat. “Gimana menurut elu?” tanyaku terhadap Josua sambil tersenyum. Ia menatap Sandra berbagai detik lagi lalu menoleh ke aku serta menatapku sambil menduga-duga ada apa di balik semua ini. “Cantik banget, Kris!” ia menjawab sambil setengah tersenyum. Perlahan-lahan aku meraih kain selimut yang menutupi tubuh tahap bawahnya lalu hebat kain itu jadi menunjukan tahap perut Sandra. Aku terus hebat selimut itu hingga ke tahap antara pusar serta bulu-bulu kemaluannya. Saat ini kami bisa melihat ujung daster yang dipakainya. Dengan hati-hati aku meraihnya serta membawa daster itu melalui tubuh Sandra yang putih mulus, melalui payudaranya yang ranum. Puting susunya yang kemerahan mulai mengeras sebab angin dingin tertiup yang didampakkan oleh pergerakan tanganku serta dasternya. Aku bergeser ke sebelah kiri untuk memberi ruang bagi Josua untuk berdiri cocok di depan payudara Sandra. Sedangkan Lilo bergerak ke sebelah kanan Josua berdiri cocok di depan wajah Sandra. Tanpa membuang waktu, Lilo membuka celananya serta mulai mengocok penisnya sementara aku menuntun tangan Josua untuk meraba buah dada istipsu dengan lembut.

Melihat perbedaan kontras antara tangannya yang besar serta hitam dengan kulit Sandra yang putih saat Josua meraba-raba payudara Sandra membikinku sangat terangsang! Tangannya sangat besar, hampir-hampir menutupi seluruh payudara Sandra yang berkapasitas sedang. Dengan lembut Josua menjepit puting susu Sandra dengan bunda jari serta telunjuknya jadi terdengar desahan lembut keluar dari mulut Sandra. Sementara itu, Lilo telah melepaskan celananya serta dengan mantap mengocok penisnya yang diarahkan cocok ke wajah Sandra yang hanya terpaut berbagai senti dari mulutnya yang sedikit terbuka. Lilo menoleh ke aku saat ia meremas penisnya yang mengeluarkan cairan pelumas. Cairan itu dibiarkannya meleleh dari kepala penisnya serta menetes cocok di bibir Sandra. Pada awalnya Sandra tidak bergerak sama sekali sementara cairan itu mengairi bibir bawahnya. Tetapi sensasi yang dibangun cairan itu pada bibirnya membikin Sandra menyapu cairan itu dengan lidahnya serta menelannya.

Melihat faktor ini, Josua ikut melepaskan celananya. Seusai melepaskan celana jeans serta celana dalamnya, aku melihat penis yang paling gelap serta paling besar yang sempat aku lihat. Mungkin setidaknya panjangnya lebih dari 25 cm serta tebalnya lebih dari 6 cm. Membayangkan penis sebesar itu menerobos masuk ke dalam vagina Sandra yang basah membikin diriku bersemangat tetapi ada perasaan khawatir juga. Aku sadar kalau hingga Josua memasukkan penisnya ke dalam vagina istipsu, tentu penis Josua bakal memaksa mulut vaginanya meregang hingga melebihi batas normal. Serta tidak ada keraguan dalam diriku bahwa faktor ini tentu bakal membangunkan Sandra meski seberapa lelapnya ia tertidur saat itu.

Josua memandangku sejenak sebelum ia menunduk serta mengulum puting susu sebelah kanan Sandra sambil mengocok penisnya. Lalu ia membungkukkan badannya jadi pinggangnya maju ke depan serta mulai menggesek-gesekkan penisnya ke payudara sebelah kiri. Seusai mengocok penisnya berbagai saat, lendir pelumas mulai keluar dari ujung penisnya. Josua mengolesi cairan itu ke seluruh bulatan payudara serta puting susu Sandra dengan tutorial menggesek-gesekkan kepala penis itu ke payudara kirinya. Seusai menyuruh Lilo bergeser sedikit, aku hebat turun kain selimut hingga melalui ujung kakinya. Saat ini kami bisa melihat bulu-bulu halus kemaluannya yang tetap tertutup oleh celana dalam semi transparan itu. Lilo menjamah kaki Sandra lalu mengelus-elusnya dari bawah bergerak ke atas terus mendekat ke selangkangan Sandra sambil terus mengocok penisnya.

Hal ini merebut perhatian Josua. Ia saat ini melihat aksi Lilo sambil terus mengolesi payudara Sandra dengan cairan pelumas yang terus keluar dari penisnya. Rabaan Lilo akhirnya mencapai tahap atas paha Sandra. Ia membelai jari-jarinya ke bibir vagina istipsu yang tetap dilapisi kain celana dalamnya. Seusai Lilo membelai naik serta turun ke sepanjang bibir vaginanya, pinggul Sandra mulai bergoyang maju mundur meski hanya sedikit. Serta itu adalah pergerakan Sandra yang pertama sejak semua ini dimulai (selain gerakan menjilat bibirnya tadi). Aku terus bersemangat. Dengan lembut aku membawa tubuh Sandra jadi aku bisa melepaskan celana dalamnya, pertama ke sebelah kiri lalu ke sebelah kanan. Seusai bisa hebat celana dalamnya hingga ke setengah pahanya, segera aku hebat celana itu hingga lepas dari kakinya. Sandra saat ini telanjang bulat di hadapan dua pria yang telah dikuasai nafsu birahi. Melihat istipsu yang cantik terbaring tanpa mengenakan busana di hadapan Lilo serta Josua sementara mereka meraba, menggesek serta menjelajahi setiap jenjang tubuh istipsu, membikinku hampir meledak. Lilo menggeser kaki kiri Sandra jadi keluar dari segi ranjang lalu menyelinap ke antara pahanya serta dengan jari-jarinya mulai menjelajahi vagina Sandra yang rapat. Awalnya tetap dengan hati-hati, dengan memakai bunda jarinya, Lilo mengusap-usap bibir vagina istipsu dengan wajahnya hanya terpaut berbagai senti dari liang kewanitaannya.

Kemudian Lilo memegang klitoris Sandra dengan bunda jari serta telunjuknya lalu memilinnya dengan lembut. Faktor ini membikin Sandra mendesah serta menggeliat-geliat jadi membawa kakinya ke pundak Lilo. Josua sambil menggesek-gesekkan batang penisnya ke kedua payudara Sandra juga meremas-remas payudara itu, melihat aksi Lilo di antara paha Sandra. Ketika perhatianku kembali terhadap Lilo, ia telah menggantikan jari-jarinya dengan lidahnya! Dengan lembut Lilo meletakkan salah satu jarinya ke liang kewanitaannya. Ia menahannya di sana berbagai saat hingga cairan vagina Sandra membasahi jari itu. Baru seusai itu ia menusukkan jari itu dengan perlahan masuk ke dalam vagina istipsu. Sandra tersengal serta kedua kakinya dikaitkan di sekeliling kepala Lilo. Tanpa putus semangat, Lilo meneruskan serangannya dengan memakai lidah serta jarinya pada vagina istipsu.

Tidak ada pria lain mana pun yang sempat melakukan faktor ini terhadap Sandra tidak hanya dari diriku. Berdiri di antara Lilo serta Josua, aku langsung melepaskan celanaku serta mulai mengocok penisku sementara mereka menggarap istipsu. Tiba-tiba Josua berpindah posisi serta dengan perlahan hebat bahu Lilo. Lilo memandang wajah Josua sejenak lalu pandangannya turun ke penis besarnya yang terarah cocok langsung ke mulut bibir kewanitaan Sandra. Lilo mundur mengijinkan Josua mengambil tempatnya yang langsung mengolesi kepala penisnya ke sepanjang bibir vagina istipsu. Aku bisa melihat cairan pelumas yang keluar dari penisnya membasahi vagina serta bulu-bulu kemaluannya.

Aku terpekur serta tidak bisa bergerak sama sekali. Aku tidak tahu apa yang wajib kulakukan. Aku tahu bahwa Josua hendak menyetubuhi istipsu dengan penis raksasanya, tetapi bukan faktor itu yang meresahkan aku. Jauh dalam lubuk hatiku sebetulnya inilah yang aku inginkan serta yang telah aku rencanakan. Bakal tetapi aku tahu tentu bahwa Sandra bakal tersadar begitu penis itu memasuki tubuhnya. Terlebih lagi aku baru menyadari bahwa diafragma (alat KB) Sandra tergeletak di atas meja. Biasanya, ia memakai diafragmanya ketika ia tahu kami berniat untuk melakukan ‘sesuatu’, bahkan apabila ia berangkat tidur sebelum aku tidur. Tetapi malam itu, aku rasa ia telah mabuk jadi lupa memakainya. Fotoan adegan pria berkulit gelap ini menyemprotkan air maninya ke dalam liang vagina istipsu yang tidak dilindungi alat KB, memicu sesuatu dalam diriku meski sebetulnya aku INGIN melihat Josua menumpahkan spermanya ke dalam vagina Sandra. Aku telah tidak bisa mengontrol keinginanku untuk melihat faktor ini. Boleh dibilang aku terbukti telah kehilangan kontrol atas situasi ini. Seusai membalur kepala penisnya dengan cairan yang keluar dari vagina Sandra, Josua menaruh kepala penis itu di depan mulut bibir vagina istipsu lalu… menekannya masuk.

Dengan perlahan kepala penis itu mulai menghilang dari balik bibir vagina itu. Bibir vagina istipsu meregang dengan ketat jadi mencegah kepala penis itu masuk lebih dalam. Tetap dalam kondisi terlelap, Sandra membuka mulutnya saat ia tersengal begitu merasakan sedikit rasa perih pada selangkangannya. Aku berpikir: Apabila hanya kepala penisnya yang baru masuk saja telah membikin istipsu kesakitan, apa jadinya saat Josua mencoba untuk menghujamkan seluruh batang penis itu ke dalam tubuhnya? Tapi untunglah Josua bersikap lembut dalam serangan awal pada vagina Sandra. Dengan selembut mungkin serta dalam keadaannya yang telah sangat terangsang, Josua menggoyangkan pantatnya dalam gerakan maju mundur yang pendek-pendek jadi membikin bibir vagina istipsu lebih meregang sedikit demi sedikit seiring dengan terus mendalamnya tusukan penis itu.

Lilo kembali pindah ke depan kepala Sandra. Ia bermain-main dengan payudaranya sedang tangannya yang lain mengocok penisnya di atas wajah Sandra. Sesekali Lilo membungkuk serta dengan lembut mencium bibir istipsu yang sedikit terbuka itu, menjulurkan lidahnya sedikit masuk ke dalam mulutnya sementara terus meremas-remas payudaranya sambil mengocok penisnya. Saat lidah Lilo menyentuh lidahnya, dengan gerak refleks Sandra menutup bibirnya sedikit jadi bibirnya membungkus lidah Lilo. Dengan segera Lilo hebat wajahnya ke belakang lalu menyodorkan kepala penisnya masuk sedikit ke dalam bibir Sandra yang agak terbuka. Semacam sedang bermimpi erotis, Sandra mulai mengecup ujung kepala penis Lilo. Aku mendengar Lilo mengerang saat aku mendengar suara menyedot keluar dari bibir sandra
Perhatianku kembali terhadap usaha penerobosan Josua terhadap tubuh istipsu. Saat ini telah kurang lebih 5 cm dari penisnya masuk ke dalam vagina Sandra serta tahap yang paling tebal dari penisnya hampir masuk ke dalamnya.

Tiba-tiba, seakan pembatas yang menghalangi penis itu masuk lebih dalam lenyap dalam sekejap, tahap penis yang paling tebal itu langsung masuk ke liang kewanitaan Sandra. Josua mulai menggenjot panggulnya dengan serius. Ia baru saja memasukkan 2/3 dari penisnya saat tiba-tiba…… SANDRA TERBANGUN!
Mula-mula kedua mata istipsu melotot lalu ia tersengal serta mengeluarkan penis Lilo dari mulutnya sementara ia merasakan vaginanya meregang hingga batas maksimal. Kami bertiga diam membeku saat orientasi Sandra yang baru tersadar sedikit demi sedikit terkumpul serta pada akhirnya Sandra tersadar sepenuhnya bakal apa yang sedang terjadi. Pandangannya berpindah dari penis Lilo yang menggantung di depan bibirnya lalu ke Josua yang penisnya telah masuk ke dalam vaginanya. Tiba-tiba, yang sangatlah membikinku terkejut, Sandra melingkarkan kedua kakinya ke pantat Josua lalu menekankan tubuh Josua supaya penisnya terbenam terus dalam pada vaginanya. Sandra mengerang saat penis itu masuk 4 cm lebih dalam. Telah sebagian besar dari batang penis itu masuk ke dalam tubuhnya serta dalam tiap hentakan, penis itu menerobos terus dalam. Lilo menaruh kepala penisnya di bibir Sandra serta sekali lagi Sandra mulai menghisapi kepala penis itu. Tetapi konsentrasinya jatuh pada penis Josua yang meregang bibir vaginanya hingga batas yang belum sempat ia bayangkan sebelumnya.

Setiap kali Sandra hendak menghisap kepala penis Lilo, Josua menancapkan penisnya lebih dalam yang membikinnya terhenti sejenak dengan desahan yang keluar dari mulutnya. Aku mulai mengocok penisku dengan lebih cepat ketika aku melihat Josua menghujamkan seluruh batang penisnya ke dalam Sandra. Bibir vaginanya ikut tertarik ke dalam seiring dengan masuknya penis itu. Serta saat Josua hebat penisnya keluar, cairan cinta Sandra terkesan membasahi batang penis itu serta tahap dalam vaginanya terkesan ikut tertarik keluar semacam saat kami hebat keluar jari-jari kami dari dalam sarung tangan. Dalam waktu pendek Sandra berorgasme dengan KUAT! Penis Lilo terlepas leluasa dari mulutnya saat ia melenguh dengan kuat, “OOOOHHHHHHhhhh…..!” Seluruh tubuhnya mengejang sementara gelombang demi gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhnya serta tiap kali teriakannya terus kencang dengan cara orgasmenya berlanjut serta terus menguat. Getararan-getaran dalam vagina istipsu yang membungkus rapat penisnya akhirnya membikin Josua mencapai klimaksnya. Suara erangannya terdengar keluar dari dalam mulut Josua sementara ia menghujamkan penisnya dengan keras sekali lagi lalu memuntahkan cairan sperma jauh di dalam vagina Sandra. Erangan serta desahan mereka bercampur seiring dengan klimaks mereka yang akhirnya mereda juga. Cairan sperma yang terkesan semacam gumpalan besar meleleh saat Josua hebat penisnya dari dalam vagina istipsu.

Dengan Sandra tetap tergeletak lemas di atas ranjang, Lilo segera melompat ke antara kaki Sandra. Ia mengoles-oleskan penisnya ke vagina istipsu yang basah oleh sperma Josua serta cairannya sendiri. Lalu dengan mudah Lilo memasukkan penisnya ke dalam vagina Sandra yang telah meregang melebihi batas itu. Seusai berbagai genjotan, Lilo hebat penisnya serta mengarahkan ke celah anus istipsu. Bahkan aku pun belum sempat memasukkan penisku lewat pintu belakang. Aku menduga-duga apakah istiku
bakal menghentikan lakukanan Lilo.

Nyatanya Sandra tidak memberbagi perlawanan sedikitpun, tetapi demikian saat penis Lilo masuk setengahnya ke dalam liang duburnya, Sandra meringis kesakitan. Tidak lama seusai itu, otot-otot duburnya mulai rileks serta Sandra mulai menggenjot pantatnya jadi penis Lilo masuk sepenuhnya ke dalam anusnya. Josua berpindah ke dekat wajah Sandra. Ia memegang penisnya yang penuh dengan cairan sperma bercampur cairan cinta dari vaginanya di atas mulutnya. Dengan lembut Sandra membersihkan cairan itu dengan mulutnya serta sesekali memasukkan penis yang telah melemas itu sejauh yang ia bisa ke dalam mulutnya. Meski telah melembek, penis Josua tidak tidak lebih dari 18 cm panjangnya serta Sandra sanggup menelan hingga kurang lebih 15 cm sementara Lilo memompa anusnya yang tetap perawan. Suara erangan Lilo terus membesar saat aku mengangkangi dada istipsu serta menekan kedua payudaranya ke penisku yang telah berdenyut-denyut. Serta aku mulai menggoyang-goyangkan pinggangku.

Sandra mengeluarkan penis Josua dari mulutnya serta mulai menjilati kepala penis itu sambil memain-mainkan penis serta buah zakarnya yang licin. Baru saja aku hendak memuntahkan spermaku ke atas dada serta wajah Sandra, aku mendengar Lilo mengerang untuk yang terbaru kalinya saat ia mengosongkan muatannya ke dalam pantat istipsu. Faktor ini membikinku mencapai klimaks serta menyemburkan cairanku ke dada Sandra. Secepat kilat aku meyodorkan penisku masuk ke dalam mulut istipsu serta ia mulai menyedot seluruh semburan sperma yang tetap tersisa. Sandra terus mengulum penisku yang melembek sementara aku terkulai lemas. Aku menoleh ke belakang melihat Lilo hebat penisnya dari dalam anus istipsu dengan suara yang basah, “Thllrrrpp!” Lilo yang pertama kali mengeluarkan suara, “Gilaaaaa, man! Enak beneerrrr!” Aku hanya bisa menghela nafas begitu aku terkulai di samping Sandra. Sandra tersenyum kepadaku dengan wajah nakal serta imutnya. Sambil tetap bermain-main dengan penis Josua yang besar itu,

MusimBokep : MENGIKUTI PERINTAH DARI DUA CEWE NAKAL UNTUK MELAYANI NAFSUNYA


Musimbokep - Bermula dari keisenganku membuntuti mobil berisi dua cewek cakep yang baru keluar dari gedung perkantoran. Mereka pun tahu dan pernah terjadi kejar-kejaran, hingga akhirnya mereka kasih kode untuk mengikuti mobilnya dari belakang.

Sampailah akhirnya aku ke suatu  rumah mewah di perumahan elit. Seusai aku memasukkan mobil ke pekarangannya, aku memperhatikan mereka turun dari mobilnya, dan nyatanya mereka bukan saja cakep, tapi juga sexy dengan pakaian kerja berblazer, rok mini dan sepatu tinggi.

Yang satu wajahnya lucu dan innocence, dan kuketahui kemudian namanya Vana. Sedangkan yang berwajah agak cuek dan sensual namanya Meiko, gadis keturunan Jepang. Aku diajaknya masuk ke ruang tengah yang penuh dengan sofa dan berkarpet tebal itu.

“Kamu ngapain sih ngikutin kita?” tanya Meiko membuka pembicaraan.
“Ngg.., iseng saja..” jawabku santai.
“Oh iseng.., kalau gitu kini gantian kami dong ngisengin kamu. Kini aku nggak mau tau, kalian berdiri dan buka pakaianmu..,” kata Meiko lagi yang membikinku kaget setengah mati.

Tapi sebab penasaran, kuikuti saja kemauannya dengan membuka satu persatu pakainku dan tinggal kusisakan celana dalam hitamku.

“Tunggu apalagi..? Ayo lepas semua! Nggak usah malu deh, nggak ada siapa-siapa lagi di sini,” katanya lagi waktu ku celingukan ke sekeliling ruangan.

Kutarik pelan-pelan ke bawah celana dalamku hingga aku menjadi bugil total. Kulihat mereka yang tenang duduk di sofa menatap ke arah penisku yang tetap belum bangun. Tiba-tiba Meiko berdiri menghampiriku, dan menyuruhku berlutut di depannya. Aku mulai merasakan ada sensasi tersendiri dengan mengikuti perintahnya. Kelakianku mulai bangkit, apalagi dengan memandang kemulusan batang kaki belalang Meiko yang berada persis di depanku.

“Baru liat kakiku aja udah tegang tuh burung.., apalagi suruh ngeraba. Ayoh coba elus-elus kakiku..!”perintah
Meiko lagi.

Aku segera menuruti perintahnya dengan meraba sepanjang kakinya yang putih mulus itu, dari mulai mata kakinya terus ke atas hingga ke paha di bawah rok mininya.

“Eh, alus juga nih maennya,” kata Meiko lagi sambil luar biasa tanganku dari pahanya.

Tiba-tiba Meiko bergerak mengambil dasiku, luar biasa kedua tanganku ke belakang, dan mengikatnya erat-erat. Dengan terus berlutut dan tangan terikat, aku menyadari bahwa aku telah semacam tawanan perang, tetapi justru membikinku makin penasaran untuk mengikuti permainannya. Benar saja, Meiko kembali berdiri di depanku dan memberi perintah lanjutan.

“Sekarang nggak ada lagi tangan.., pakai bibir dan lidahmu..!” kata Meiko sambil luar biasa kepalaku lebih dekat lagi ke kakinya.

Langsung kutelusuri keindahan kakinya, mulai lagi dari atas sepatunya terus naik ke atas dengan bibirku. Kulitnya yang putih mulus dan berambut halus itu sangatlah merangsangku, apalagi tetap terasa harum bekas cream pelembut mesikipun telah seharian di kantor. Kupagut-pagut betisnya yang indah, terus naik ke belakang lututnya yang pernah membikinnya menggeliat kegelian.

Desahannya pun mulai terdengar waktu bibirku hingga ke pahanya yang padat tapi lembut itu. Meiko bikin kejutan lagi, hari ini sebelah kakinya dinaikkan ke atas meja singkat di sebelahnya. Otomatis rok mininya makin tersingkap hingga jelas kulihat cd-nya mengintip di hadapanku.

Tangannya kembali menekan kepalaku ke arah pahanya dan ditahannya waktu bibirku mencapai paha tahap dalamnya, minta bibir dan lidahku mengusap dan menyapu kehalusan kulitnya. Pinggulnya makin menggeliat waktu kepalaku makin masuk ke rok mininya, dan kukecup halus cd tahap depan cocok di depan vaginanya yang nyatanya telah basah itu.

“Tarik cd-ku dengan gigimu, cepet..!” pintanya sambil menurunkan kakinya ke bawah lagi supaya cd-nya bisa kutarik dengan mulus.

Begitu lepas, hari ini Meiko makin bernafsu menaikkan kakinya lebih lebar lagi, dan kepalaku ditarik dan dibenamkannya di selangkangannya mesikipun tetap mengenakan rok. Bau khas vaginanya makin membikinku bernafsu untuk menyapu dan menjilati semua permukaannya. Meiko makin menggelinjang tidak beraturan waktu kutusukkan lidahku di celah vaginanya yang kuvariasi dengan sentuhan dan hisapan halus di klitorisnya.

“Jangan berhenti.., ayo lebih cepet lagi.., aah.., agh.. agghhh..!” teriak Meiko sambil menjambak rambutku kencang dan menekannya ke arah vaginanya yang makin membanjir dengan cairan segar.

Dikatupkannya pahanya kemudian dan membiarkan wajahku sesaat di selangkangannya untuk merasakan denyutan-denyutan orgasmenya.

“Van.., giliran kalian nih..!” kata Meiko ke sahabatnya yang dari tadi duduk di sofa memperhatikan permainan kami.

Vana yang berwajah melankolis itu lalu menyuruhku duduk di sampingnya.

Dengan tangan tetap terbelit ke belakang, aku duduk di samping Vana yang tiba-tiba bergerak memutar menghadap ke arahku dengan posisi berlutut, jadi posisi pahaku berada di antara kedua pahanya. Posisi menantangnya ini membikin jantungku berdebar, apalagi waktu Vana membuka pelan-pelan blazer dan baju dalamnya dengan gerakan erotis di hadapanku.

Terakhir dibukanya BH mininya dan dilemparnya ke karpet, lalu ditegakkannya badannya, jadi buah dadanya yang bulat padat itu makin menjulang sempurna persis di depan wajahku. Belum habis aku menatap keranuman buah dadanya, aku dikejutkan dengan dorongan buah dadanya ke depan, jadi wajahku terbenam di belahan dadanya.

Harum badannya yang bercampur keringat meningkatkan nafsuku untuk menghirup seluruh jengkal kulitnya yang mulus, mesikipun terkadang susah bernafas sebab dekapannya yang kuat. Waktu wajahku kumiringkan mencari putingnya, Vana malah memiringkan badannya dan membawa kedua tangannya tinggi-tinggi, jadi wajahku berada cocok di ketiak kanannya.

“Ayo ciumin ini dulu,” kata Vana.

Rupanya di situ juga salah satu area sensitifnya, dan aku dengan bahagia hati melaksanakan perintahnya. Terbukti bau khas di ketiaknya yang alamiah itu membikinku terus buas mencium dan menjilatinya. Vana pun mendesah dan menggelinjang kenikmatan.

Seusai ketiak kirinya kulumat juga, Vana meluruskan kedua tangannya ke depan dan menumpukan ujung tangannya dibagian atas sandaran sofa. Wajahku saat ini tidak berjarak lagi dengan buah dadanya. Digesek-gesekkannya putingnya yang merah muda mengeras itu ke wajahku.

“Tunggu apa lagi..? Jilat putingku..!” perintah Vana sambil menyelipkan putingnya di bibirku.

Tak kusia-siakan perintahnya ini yang bukan saja kujilat-jilat dengan buas, tapi juga kugigit-gigit kecil dan kuhisap dan kukemot-kemot dengan penuh nafsu. Vana makin menggeliat luar biasa merasakan jilatan lidahku di seluruh permukaan buah dadanya yang terus licin oleh keringatnya itu.

Seusai lumayan lama bibirku dipaksa menikmati kemontokan buah dada Vana, terdengar suara Meiko menyuruhku untuk turun dari sofa dan berbaring di karpet dengan posisi kepalaku berada di depan sofa. Sebelum aku turun, Vana pernah melepas ikatanku dan juga melepas rok mini dan cd-nya. Juga kulihat sesaat Meiko telah tidak mengenakan apa-apa lagi di tubuhnya. Penisku makin menjulang tinggi menonton tubuh-tubuh bugil mereka yang sempurna itu.

Mesikipun tanganku telah bebas, tetapi kedua tanganku tetap telentang tidak berdaya sebab telapak tanganku ditekan oleh kedua kaki Vana sambil duduk di sofa. Ketidak berdayaanku ini dikegunaaankan oleh Meiko yang maju dan merundukkan badannya, jadi membikin buah dadanya menggelantung cocok di atas wajahku.

Meiko si cewe nakal kemudian membikinku gelagapan dengan menekan buah dadanya yang bulat padat itu ke wajahku. Semacam ke Vana, aku terus disuruhnya melumat, menjilat dan menghisap putingnya bergantian sambil sesekali menindihkan buah dadanya di wajahku.

Seusai kedua bukitnya basah kuyup oleh cairan lidahku yang bercampur dengan keringatnya, Meiko membikin kejutan lagi dengan mundur hingga kepalanya cocok berada di atas penisku yang berdiri tegak bak tugu itu. Sesaat kemudian amblaslah penisku ke dalam mulut sensual Meiko.

“Aaahh..,” rintihku merasakan lembutnya bibir dan rongga mulut Meiko si cewe nakal.

Tetapi rintihanku hanya sekejap, sebab tanpa diduga telapak kaki Vana telah pindah dari tanganku ke wajahku, jadi ujung jari-jari kakinya semacam membungkam mulutku. Perlakuannya ini malah membikin darahku terus berdesir merasakan sensasi yang hebat,

apalagi Vana memintaku untuk menciumi kakinya yang bersih mulus dan berkulit lembut itu sambil menggosok-gosokkannya di wajahku. Nafsuku kian menjadi merasakan bau khas kakinya. Kuhirup dan kuciumi telapak kaki dan ujung jari kakinya dari bawah yang membikinnya kenikmatan.

“Buka mulutmu dan isep jari-jariku..!” perintah Vana sambil memasukkan jari-jari kakinya yang mungil itu dengan menjulurkannya ke mulutku.

Mulailah kuhisap satu persatu jari-jari kakinya sambil memainkan lidahku di sela-selanya. Kaki Vana mulai meronta kegelian, tetapi tetap kutahan dengan tanganku untuk tetap bersi kukuh di mulut dan wajahku.

Konsentrasiku ke kaki Vana terbukti terkadang buyar sebab perlakuan Meiko yang terus liar melumat penisku, apalagi waktu kurasakan gelitikan lidah dan hisapan mulutnya di kepala penisku. Kadang-kadang aku imbangi juga naik turun kepalanya dengan goyangan-goyangan pinggulku.

Berbagai saat kemudian, mereka semacam kompak berganti posisi yang terus menggila. Meiko si cewe nakal jongkok di atas penisku, dan Vana turun dari sofa langsung berlutut mengangkangkan pahanya cocok di atas wajahku. Penisku yang tegak kemudian terbenam di celah vagina Meiko, dan vagina Vana dibenamkannya di mulutku.

Goyangan dan naik turunnya pinggul-pinggul mereka membikin sensasi yang luar biasa buatku. Desahan dan rintihan kenikmatan mereka yang bersamaan makin membikinku bertambah ganas. Pinggulku ikut menyodok-nyodok ke atas mengimbangi putaran-putaran pinggul Meiko.

Sementara di atas, kusapukan lidahku memanjang dari vagina dan belahan pantatnya. Kadang ujung lidahku kuputar-putar di anusnya, kadang di seputar klitorisnya. Tubuh Vana menggeliat-geliat dibuatnya, apalagi kuikuti dengan naiknya tanganku ke atas meremas-remas buah dadanya. Gerakan tubuh mereka terus binal dan terus menjadi di atas tubuhku bak pemain rodeo.

Tubuh Meiko naik turun dengan cepat yang diikuti oleh Vana begitu merasakan lidahku kutegangkan memasuki celah vaginanya, hingga akhirnya terdengar teriakan mereka, “Aaah.. aaah.. aaaghhh..,” bersamaan dengan menegangnya tubuh-tubuh mereka.

Cairan pun ada dimana-mana, di penisku maupun di wajahku hasil kerja keras mereka. Ah niatku yang mulanya hanya iseng malah balik diisengi oleh cewe nakal. END by www.ceritaseks15.com Baca cerita nakal berfoto terakhir sebelumnya yang tidak kalah seru dan bisa meningkatkan birahi gairah seks mu yang berjudul Aku Ngewe dengan Lima Laki-Laki di Tempat Karaoke Mesum – Cerita Seks Berfoto, Cerita Sex Dewasa, Cerita Mesum Ngentot –

Musim Bokep : Perkosa ABG Sexy


Perkenalkan namaku Anton , aku merupakan seorang pegawai disalah satu perusahaan swasta di Jakarta, Umurku kurang lebih 34 tahun. AKu kost di daerah Slipi, letak kamarku kebetulan bersebelahan dengan kamar seorang gadis SMA yang manis dan menggemasakan. Dirinya bernama Amel, Amel ini mempunyai tubuh yang mungil, putih dan mulus tanpa ada lecet sedikitpun. Di dalam kamar kostku tersedia berbagai celah angin Fentilasi, teptnya lubng Fentilasi itu menghubungkan antara kamarku dengan kamar Amel. Semula celah Fentilasi itu telah kututup dengan kertas, berfungsi supaya tidak ada debu alias nyamuk yang masuk, berhubung Amel kost di sebelah kamarku, maka kertas itu aku lepas, jadi aku bisa dengan jelas menonton apa yang terjadi pada kamar Amel itu. Hhe . Kali aja aku bisa mendapat pemandangan indah dari kamar Amel.

Awal mula cerita Sexku ini berwal dari Keisenganganku ketika aku berada di kamar kos. Pada sebuahmalam aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku dibuka, lalu aku semacam biasanya naik ke atas meja untuk mengintip. Nyatanya Amel itu baru pulang dari sekolah, tapi yang membikin saya heran kenapa hingga larut malam begini dirinya pulang dari sekolah (tanyaku dalam hati ). Ketika itu Amel sedang menaruh tas, Kemudian dirinya mencopot sepatunya. Kemudian setelh itu Amel beranjak mengambil segelas air putih dan meminumnya. Seusai berakhir minum dirinya duduk di kursi, tiba-tiba ketika di duduk, Amel membawa kakinya menghadap pada celah angin tempat aku mengintip.

Ketika itu Amel sama sekali tidak bisa menonton ke arahku sebab lampu kamarku telah kumatikan, maka dari itu aku bisa dengan leluasa menonton ke dalam kamarnya. Tetap pada posisi kakinya yang diangkat di atas kursi, aku bisa menonton jelas celana dalamnya yang berwarna hitam dengan gundukan kecil di tengahnya. Ketika menonton itu dengn Otomatis , tiba- tiba penisku yang berada dalam celanaku mulai ereksi. Mataku mulai melotot menonton keindahan yang tiada duanya itu, apalagi ketika Amel bangkit dari kursi dan mulai melepaskan baju dan rok sekolahnya, saat ini terkesanlh Amel yang hanya menggunakan BH dan celana dalam saja. nomor jitu

Dalam posisinya yang memkai BH dan CD dirinya bercermin sebentar memperhatikan tubuhnya yang ramping dan putih mulus itu. Seusai bercermin tangan Amel mulai meluncur pada payudaranya yang nyatanya tetap kecil tapi kencang. Kemudian mulai diusap payudaranya dengan lembut, dipuntir-puntirnya dengan pelan puting susunya sambil memejamkan mata, rupanya dirinya mulai merasakan nikmat, disusul dengan tangan satunya yang meluncur ke arah celana dalamnya, mulai digosoknya dengan perlahan Vagina Amel dengan jari-jarinya itu. Dirinya memainkan jari-jari divaginany yang tetap tertutup celna dlam itu lumayan lama.

Ketika menonton itu tubuhkupun mulai bergetar, sedangkan penisku telah sangat tegang sekali. Tidak lama kulihat Amel mulai melepaskan celana dalamnya. Astaga… nyatanya sangat indah sekali Vagina Amel, terkesan sangat bersih dan belum ada bulunya sama sekali. Beranjaklah Amel naik ke tempat tidur dengan posisi menelungkup dan di mulai menggoyangkan pantatnya layaknya semacam sedang bersetubuh. Amel menggoyang pantatnya ke kiri, kanan, naik dan turun, rupanya dirinya sedang mencari kenikmatan yang ingin sekali dirinya rasakan, tapi hingga lama Amel bergoyang rupanya kenikmatan itu belum dicapainya, Lalu dirinya bangkit dan menuju kursi dan ditempelkannya vaginanya pada ujung kursi sambil digoyang dan ditekan maju mundur dengan desahan-desahan kecilnya.

Akupun merasa kasihan menonton Amel yang sedang terangsang berat itu, suara nafasnya yang ditahan mengfotokan dirinya sedang berusaha meraih dan mencari kenikmatannya. Kemudian Amel beranjak mengambil sebuah timun kecil, seusai mendpatkan Timun itu, dibasahilah dengan ludahnya lalu pelan-pelan Timun itu dimasukan ke celah vaginanya, begitu Timun itu masuk kurang lebih satu alias dua centi matanya mulai merem-melek dan erangan nafasnya makin memburu,
“ Ssss….Ahh… ouhhh… ahhh… ” desah adel yang mulai merasakan nikmat,
Lalu dicopotnya Timun itu dari vaginanya, kini jari tengahnya mulai juga dicolokkan ke dalam vaginanya. Pertama, jari itu masuk hingga sebatas kukunya kemudian dirinya dorong lagi jarinya untuk masuk lebih dalam lagi, dirinya melenguh,
“ Ouhhh… Ssss… ahhhh… ” desah adel lagi,

Aku merasa heran dengan Adel, jari tengahnya dicabut lagi dari vaginanya, tidak lebih nikmat rupanya, lalu dirinya menonton sekelilingnya untuk mencari sesuatu, aku yang menyaksikan semua itu betul-betul telah tidak tahan lagi. Penisku telah sangat mengeras dan tegang menarik, lalu kubuka celana dalamku dan kini penisku leluasa bangun lebih gagah, lebih besar lagi ereksinya Menonton vagina si Amelyang sedang terangsang itu. Lalu aku mengintip lagi dan kini Amel rupanya sedang menempelkan vaginanya yang bahenol itu pada ujung meja belajarnya. Saat ini gerakannya maju mundur sambil menekannya dengan kuat, lama dirinya berbuat semacam itu.., dan tiba-tiba dirinya melenguh,
“ Ssss… Ahh… ahh… ahhh…. ”, rupanya dirinya telah mencapai kenikmatannya,
Singkat cerit seusai berakhir, dirinya lalu berbaring di tempat tidurnya dengan nafas yang tersengal- sengal. Saat ini posisinya cocok berada di depan pandanganku. Kulihat vaginanya yang berubah warna menjadi agak kemerah-merahan sebab digesek semakin dengan ujung kursi dan meja. Terkesan jelas vaginanya yang menggembung kecil ibarat kue apem yang ingin rasanya kutelan, kulumat habis, dan tanpa terasa tanganku mulai menekan biji penisku dan kukocok penisku yang sedang dalam posisi menegang. Kuambil sedikit Hand Body lalu kuoleskan pada kepala penisku, lalu kukocok semakin, kukocok naik turun dengan lumayan lama. Sebab aku telah sangat Horny sekali, Tidak lama muli kurasakan denyutan-denyutan pada Batang Penisku, tidak lama kemudian ….

“ Ahhhh… Ouhhhh… Ssss… Ahhhh… Crottt… Crottt… Crottt… ” desh pelanku, dan keluarlah air maniku menyembur kencang ke tembok sambil mataku tetap menatap pada vagina Amelyang tetap telentang di tempat tidurnya.
Nikmat sekali rasanya onani sambil menyaksikan Amelyang tetap berbaring telanjang bulat. Kuintip lagi pada celah angin, dan rupanya dirinya ketiduran, mungkin capai dan lelah. Esok harinya aku bangun kesiangan, lalu aku mandi dan buru-buru pergi ke kantor. Di kantor semacam biasa tidak sedikit kerjaan menumpuk dan rasanya hingga jam sembilan malam aku baru berakhir. Meja kuselesaikan, komputer kumatikan dan aku pulang naik taksi dan kurang lebih jam sepuluh aku hingga ke tempat kostku. Seusai makan malam tadi di jalanan, aku tetap membuka kulkas dan meminum bir dingin yang tinggal dua botol.

Aku duduk dan menyalakan TV, ku-stel volumenya lumayan pelan. Aku terbukti orang yang tidak suka berisik, dalam bicarapun aku bahagia suara yang pelan, kalau ada wanita di kantorku yang bersuara keras, aku langsung menghindar, aku tidak suka. Agenda TV rupanya tidak ada yang keren, lalu kuingat kamar sebelahku ada Amel yang tadi malam telah kusaksikan segalanya yang membikin aku sangat ingin mempunyainya. Mulailah aku naik ke tempat biasa dan mulai lagi mengintip ke kamar sebelah. Amelyang cantik itu kulihat tengah tidur di kasurnya, kulihat nafasnya yang teratur naik turun menandakan bahwa dirinya sedang betul-betul tidur pulas.
Ketika menonton Amel yang tertidur pulas, tiba-tiba nafsu jahilku timbul, dan segera kuganti celana panjangku dengan celana singkat dan dalam celana singkat itu aku tidak menggunakan celana dalam lagi, aku telah nekat, kamar kostku kutinggalkan dan aku pura- pura duduk di luar kamar sambil menghisap sebatang rokok. Seusai kulihat situasinya aman dan tidak ada lagi orang, nyatanya pintunya tidak di kunci, mungkin dirinya lupa alias juga terbukti telah ngantuk sekali, jadi dirinya tidak memikirkan lagi mengenai kunci pintunya. Dengan pelan dan hati-hati aku mulai masuk ke kamarnya dan pintu langsung kukunci pelan dari dalam.

Lalu kuhampiri tempat tidurnya, kemudian aku duduk di tempat tidurnya memandangi wajah Amel yang mungil itu, Astaga… Amel menggunakan daster yang tipis, daster yang tembus pandang jadi celana dalamnya yang kini berwarna Merah sangat jelas terbayang di hadapanku. Menonton itu penisku langsung tegang sempurna jadi keluar dari celana pendekku. Kulihat wajahnya, matanya, alisnya yang tebal, dan hidungnya yang mancung agak sedikit menekuk tanda bahwa gadis ini mempunyai nafsu besar dalam seks, itu terbukti rahasia lelaki bagi yang tahu. Ingin rasanya aku langsung menubruk dan mejebloskan penisku ke dalam vaginanya, tapi aku tidak mau ceroboh semacam itu. Seusai aku yakin bahwa Amelsangatlah telah pulas, pelan-pelan kubuka tali dasternya, dan terbukalah, lalu aku sampirkan ke samping. Saat ini kulihat pahanya yang putih kecil dan padat itu.

Sungguh sebuahpemandangan yang sangat menakjubkan, apalagi celana dalamnya yang mini membikin gundukan kecil ibarat gunung merapi yang tetap ditutupi oleh awan membikin penisku mengejat- ngejat dan mengangguk- ngangguk. Pelan-pelan tanganku kutempelkan pada vaginanya yang tetap tertutup itu, aku diam sebentar takut kalau kalau Amelbangun, aku bisa kena malu, tapi rupanya Amelsangatlah tertidur pulas, lalu aku mulai menyibak celana dalamnya dan Menonton vaginanya yang mungil, lucu, menggembung, ibarat kue apem yang ujungnya ditempeli sebuah kacang. Sangatlah aku merinding dan gemetar menonton itu. Saat ini mulailah kumainkan jariku pada pinggiran vaginanya, kuputar semakin, kugesek pelan, sekali-sekali kumasukkan jariku pada celah kecil yang betul-betul indah, bulunyapun tetap tipis dan lembut. Penisku rasanya makin ereksi berat,
“ Ssss… ahhhh… “aku mendesah lembut.,
Betapa indahnya kau Amel, alangkah kuingin mempunyaimu, aku menyayangimu, cintaku langsung hanya untukmu. Oh, aku terperanjat sebentar ketika Amel bergerak, rupanya dirinya menggerakkan tangannya sebentar tanpa sadar, sebab aku mendengar nafasnya yang teratur berarti dirinya sedang tidur pulas. Lalu dengan nekatnya kuturunkan celana dalamnya perlahan tanpa bunyi, pelan, pelan, dan lepaslah celana dalam dari tempatnya, kemudian kulepas dari kakinya jadi saat ini Amelsangatlah telanjang bulat. Menarik, indah sekali bentuknya, dari kaki hingga wajahnya kutatap tidak berkedip. Payudaranya yang tetap berupa puting itu sangat indah sekali. Sangat menarik, pelan-pelan kutempelkan wajahku pada vaginanya yang merekah bak bunga mawar, kuhirup bau wanginya yang khas.

Aku sangatlah telah tidak tahan, lalu lidahku kumainkan di kurang lebih vaginanya. Aku terbukti populer sebagai si pandai lidah, sebab setiap wanita yang telah sempat kena lidahku alias jilatanku tentu bakal ketagihan, aku terbukti jago memainkan lidah, maka aku praktekan pada vagina si Amel ini. Lereng gunung vaginanya kusapu dengan lidahku, kuayun lidahku pada pinggiran lalu sekali-kali sengaja kusenggol klitorisnya yang indah itu. Kemudian gua kecil itu kucolok lembut dengan lidahku yang sengaja kuulur panjang, aku usap semakin, aku colok semakin, kujelajahi gua indahnya jadi lama- kelamaan gua itu mulai basah, lembab dan berair. Nikmat sekali air itu, bau yang khas membikinku mabuk kepayang, penisku telah tidak sabar lagi, tapi aku tetap takut kalau kalau Amelterbangun bisa runyam nanti, tapi desakan kuat pada penisku telah sangat besar sekali.

Nafasku sangatlah tidak karuan, tapi kulihat Amelmasih tetap saja pulas tidurnya.-Akupun lebih bersemangat lagi, kini semua performa lidahku kupraktekan saat ini juga, menarik terbukti, vagina yang mungil, vagina yang indah, vagina yang telah basah. Rasanya semacam telah siap menanti tibanya senjataku yang telah bentrok untuk menerobos gua indah misterius yang ditumbuhi rumput tipis milik Melda, tetapi kutahan sebentar, sebab lidahku dan jilatanku tetap asyik bermain di sana, tetap memberbagi kenikmatan yang sangat menarik bagi Amel.
Tapi sayang sekali Amel tertidur pulas, andai kata Amel bisa merasakan dalam keadaan sadar tentu sangat menarik kenikmatan yang sedang dirasakannya itu, tapi mesikipun Amel saat ini sedang tertidur pulas dengan cara psycho seks yang berlangsung dengan cara alamiah dan biologis, nikmat yang amat sangat itu tentu terbawa dalam mimpinya, itu pasti. Mesikipun dirinya tertidur pulas nafasnya yang mulai tersengal dan tidak teratur dan vaginanya yang telah basah, itu menandakan hal psycho tersebut telah bekerja dengan baik. Jadi nikmat yang menarik itu tetap bisa dirasakan seperempatnya dari keseluruhannya kalau di saat sadar.

Akhirnya Sebab kupikir telah lumayan rasanya lidahku bermain di vaginanya, maka pelan-pelan penisku yang terbukti telah minta semakin sejak tadi kuoles-oleskan dulu sesaat pada ujung vaginanya, lalu pada clitorisnya yang mulai memerah sebab nafsu, rasa basah dan hangat pada vaginanya membikin penisku bergerak sendiri otomatis semacam mencari-cari celah gua dari titik nikmat yang ada di vaginanya. Dan ketika penisku dirasa telah lumayan bermain di daerah istimewanya, maka dengan hati-hati tetapi tentu penisku kumasukan perlahan-lahan ke dalam vaginanya.., pelan, pelan dan,

“ Zleebbb… slupppp… Ahhhh… ”, masuklah kepala penisku yang gundul telah tidak kelihatan sebab batas di kepala penisku telah masuk ke dalam vagina Amelyang hangat nikmat itu.
Lalu kuperhatikan sebentar wajahnya, Masih!, dia, Amel tetap pulas saja, hanya sesaat saja kadang nafasnya agak sedikit tersendat,
“ Eghhh… Ssss… Ahhhh…. Sss… Ouhhh… ”, desahnya mulai terdengar semacam orang ngigau,
Kemudian kucabut lagi penisku sedikit dan kumasukkan lagi agak lebih dalam kira-kira hampir setengahnya, Ohhh… alangkah nikmatnya, alangkah enak dan alangkah kesetnya celahmu Vaginamu sayang ( ujar dalam hatiku ).Gerakanku kuhentikan sebentar, kutatap lagi wajahnya yang betul-betul cantik yang mencerminkan sumber seks yang menarik dari wajah mata dan hidungnya yang agak menekuk sedikit, Sungguh alangkah sempurnanya tubuhmu Amel. Apapun yang terjadi aku bakal bertanggung jawab untuk semuanya ini. Aku sangat menyayangimu. Lalu kembali kutekan agak dalam lagi penisku supaya bisa masuk lebih jauh lagi ke dalam vaginanya,
“ Zlebbb… Sss… Ahhh.. ouhhh… ” desah nimatku,

Sungguh menarik, sungguh nikmat sekali vaginanya, belum sempat selagi ini ada wanita yang mempunyai vagina seenak dan segurih milik Amel ini. Ketika kumasukan penisku lebih dalam lagi, kulihat Amelagak tersentak sedikit, mungkin dalam mimpinya dirinya merasakan kaget dan nikmat juga yang menarik dan nikmat yang amat sangat ketika senjataku betul-betul masuk, lagi-lagi dirinya mengerang, erangan nikmat, erangan sorga yang aku yakin sekali bahwa Amel tentu merasakannya mesikipun dirasa dalam tidurnya. Akupun demikian, ketika penisku telah masuk semua ke dalam vaginanya, kutekan lagi hingga terbenam habis, lalu kuangkat lagi dan kubenamkan lagi sambil kugoyangkan perlahan ke kanan kiri dan ke atas dan bawah, gemetar badanku merasakan nikmat yang sesungguhnya yang diberbagi oleh vagina Amel ini.

Aneh sangat menarik, vaginanya sangat menggigit lembut, menghisap pelan dan lembut dan meremas senjataku dengan lembut dan kasih sayang. Sangatlah vagina yang menarik. Oh… Amel, tidak bakal kutinggalkan kamu. Lalu dengan lebih semangat lagi aku mendayung dengan kecepatan yang taktis sambil membikin goyangan dan gerakan yang terbukti telah kuciptakan sebagai resep untuk memuaskan Amel ini. Akhirnya senjataku kubenamkan habis ke dasar vaginanya yang lembut, habis kutekan penisku dalam- dalam. Aakh, sumur Amelterbukti bukan main, mesikipun celah vaginanya itu kecil tetapi aneh bisa menampung senjata meriam milikku yang kurasa lumayan besar dan panjang, belum lagi dengan urat-urat yang tumbuh di kurang lebih batang penisku ini, vagina yang menarik. Lama-kelamaan, ketika penisku sangatlah kuhunjamkan habis dalam- dalam pada vaginanya, aku mulai merasakan semacam rasa nikmat yang menarik, yang bakal muncrat dari batang kemaluanku,

“ Sss… Ahhh… Ouhhh…” desah nikmatku,
Kemudian mulai kupercepat gerakanku pinggulku naik turun dengan Full Power, tidk lama kemudian ….
“ Crottt… Crottt… Crottt… Ssss… Aaaaaaahhhh…. “ akhirnya tersemburlah air maniku membnjiri vagina Amel yang sempit dan nikmat itu,
Terkulai lemaslah aku seusai menikmti Vagin amel yang nikmat itu. Kemudian segera kucabut penisku itu, sebab aku takut apabila Amel terbangun. Dan seusai berakhir, aku segera merapikan lagi. Celana dalamnya kupakaikan lagi, begitu juga dengan dasternya juga aku kenakan lagi padanya. Sebelum kutinggalkan, aku kecup dulu keningnya sebagai tanda sayang dariku, sayang yang betul-betul muncul dari diriku, dan akhirnya pelan-pelan kamarnya kutinggalkan dan pintunya kututup lagi. Aku masuk lagi ke kamarku, berbaring di tempat tidurku, sambil menerawang, aku menghayati permainan tadi. Oh, sungguh sebuahkenikmatan yang tiada taranya.
Kemudian seusai itu akupun tertidur dengan pulasnya.

Singkat cerita keesokan harinya semacam biasa aku bangun pagi, mandi dan siap-siap pergi ke kantor. Ketika aku ingin berngkat kekantor tiba-tiba aku menonton amel yang tersenyum kepadaku. Tanpa bicara apapun kemudian dirinya pergi begitu saja. Entah apa maksud dari senyuman Amel itu. Dengan senyuman Amel itu aku sempat berfikir apakah dirinya semalam tahu kalau aku menyetubuhinya ( ucapku dalam hati ), tapi itu tidak kufikirkan terlalu lama, misalkan dirinya tahupun aku tidak persoalan, sebab aku telah siap dengan segala resikonya.

Musim Bokep : Liburan Plus


Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebetulnya). Saat ini saya menginjak 17tahun, serta kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, serta sangat terawat mesikipun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku pergi dari kota S menuju kota M.

Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Seusai saling tanya-menanya berita, aku pun diantarkan ke kamar oleh pesuruh tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tidak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, serta usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membikinku tidak berkedip saat mengikutinya dari belakang merupakan bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berlangsung, seeakan menantangku untuk meremas nya.

Seusai hingga dikamar aku tertegun sejenak, memantau apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.
“Den, ini kamarnya.”
“Eh iya Bi.” jawabku setengah tergagap.
Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.
“Den, kelak kalau ada butuh apa-apa panggil Bibi aja ya?” ucapnya sambil berlalu.

“Eh, tunggu Bi, Bibi dapat mijit kan? badanku pegel nih.” Kataku setengah memelas.
“Kalau sekedar mijit sih dapat den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?”
“Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?”
“Wah peluang nih, aku dapat merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku.” ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.
“Den, coba Aden tiduran gih.” suruh Bi Sum.

“Eh, iya Bi.” lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.
“Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?” tanyaku memecah keheningan.
Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya dapat diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.
“Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, tentu enak sekali.” kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya “Adik” kecilku.

Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.
“Bi, dari tadi aku nggak menonton om susilo serta Dik rico sih.”
“Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan kini pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L.” tuturnya.
“Oo.., sehingga tante sendirian dong Bi?” tanyaku
“Iya den, kadang Bibi juga kasihan menonton nyonya, nggak ada yang nemenin.” kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.
“Ada apa den?” tanyanya polos.
“Anu Bi, itu yang pegel.” jawabku sekenanya.
“Mm.. Bibi udah punya suami?” kataku lagi.

“Anu den, suami Bibi telah meninggal 6bulan yang lalu.” jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku mengatakan.
“Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?”
“Bibi titipkan pada adik Bibi” katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.
“Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?” tanyaku lagi.
“Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?” ucapnya.

“Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi tetap keliatan cantik kok.” pujiku, sambil memantau wajahnya yang bersemu merah.
“Ah.., den andy ini dapat saja” katanya, sambil tersipu malu.
“Eh bener loh Bi, Bibi tetap cantik, udah gitu seksi lagi, tentu Bibi rajin memelihara tubuh.” Godaku lagi.
“Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji semakin.”
Lalu aku bangkit, serta duduk berhadapan dengan dia.
“Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, telah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini tetap indah loh..” kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Dengan cara reflek dirinya langsung menutupinya, serta menundukkan wajahnya.
“Aden ini dapat saja, orang ini telah kendur kok dibilang keren.” katanya polos.
Semacam mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.

“Bibi ini aneh, orang payudara Bibi tetap inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri” kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.
“Jangan ah den, Bibi malu.”
“Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, serta ngaca.” Lalu aku mulai menolong membuka baju kebaya yang dikenakannya, semacamnya ia pasrah saja. Seusai baju kebaya nya lepas, serta ia hanya menggunakan Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.

“Jangan den, Bibi malu kelak nyonya tahu bagaimana?” tanyanya polos.
“Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok” Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, serta wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal serta padat berisi, menonton itu “Adik” kecilku langsung mengacung keras sekali.
Aku pun tidak menyia-nyiakan peluang emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya dapat mendesah serta matanya “Merem-melek”.

“Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den”
Aku tidak menggubris pertanyaannya malahan aku menambah seranganku. Saat ini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, serta Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil luar biasa jarik yang digunakannya.
“Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den”
Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku serta ciumanku semakin turun keperutnya, serta dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang digunakannya, aku terdiam sesaat seraya memantau gundukan yang ada dibawah perutnya itu.

“Den, punya aden besar sekali” katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.
“Bi, jilatin ya.. punya Andy.” Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.
“Mmhh.. ohh.. Bi semakin, kulum penisku Bi.., tidak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, serta rasanya ada yang bakal keluar di ujung penisku.
“Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh” jeritku panjang serta tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.

Aku pun mulai pindah posisi, saat ini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum telah tidak sabar, ia menekan kepalaku supaya mulai menjilati memeknya serta sluurpp.. memek Bi Sum kujilati hingga kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, serta gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tidak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.
“Ohh.. den.. teruuss den jilat semakins.. memek Bibi den.. mmhh” katanya sambil menggeliat semacam cacing kepanasan.

“Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh.” Bi Sum menggelinjang luar biasa serta serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum tetap menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.
Aku pun mulai menciumi telinganya, serta dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang telah sangat horny langsung mengatakan, “Bi aku masukkan kini ya..”. ia hanya dapat mengangguk pelan.

aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang telah sangat becek. Bless.. separuh penisku hanyut kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun hanyut kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.

“Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh.” desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny serta kupercepat sodokkanku di memeknya.
“Oh.. Bii memek kalian sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh..”
“Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den..”
aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.
“Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh..”
“Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr..”
Lalu berbagai detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut luar biasa serta, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.

“Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak” kataku sambil mencupang buah dadanya.
“Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa.”
akhirnya kita tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dirinya mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pesuruh tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali bakal saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang pastinya lebih menghebohkan, sebab tante saya ini orang yang hipersex, sehingga nafsunya sangat besar, serta meledak-ledak.

Kategori

Kategori