Kuperkosa Adikku Yang Nakal


Musimbokep - Nama saya adalah Tohir, seorang anak smu yang doyan banget nge-seks serta jilatin memek seorang cewek. Aq punya adik cewek yang namanya Fina angelina. Aku serta adikku adalah anak orang kaya. Apabila aku kelas 3 Smu, fina adikku sekarang duduk di kelas 3 smp mau lulus.

Fina di sekolahny tergolong gadis, cewek yang sangat terkenal sebab kecantikan serta kemolekan tubuhnya. Aq sebagai seorang kakaknya rutin membayangkan apabila adikku yang manis serta cantik itu aku setubuhi sendiri. Pasti kontolku bakalan nut-nutan.

Singkat kata, adikku fina terbukti seorang gadis yang sangat cantik serta adalah kebanggaan orang tuaku. Tidak hanya itu dirinya juga sangat pandai mengangkat diri di hadapan orang lain jadi semua orang menyukainya. Tetapi di balik semua itu, sang “putri” ini sebenarnya tidaklah perfect. Kepribadiannya yang manis nyatanya hanya topeng belaka. Di dunia ini, hanya aku, kakak laki-lakinya, yang tahu bakal kepribadiannya yang sesungguhnya. Kedua orang tuaku yang tidak jarang keluar kota untuk berbisnis rutin menitipkan rumah serta adikku kepadaku. Tapi mereka tidak tahu kalau aku kesusahan untuk mengendalikan adikku yang bandelnya bukan main. Di hadapanku, dirinya rutin bersikap membangkang serta seenaknya. Bila aku mengatakan A, maka dirinya bakal melakukan faktor yang sebaliknya. Pokoknya aku sungguh kewalahan untuk menanganinya.

Suatu hari, semuanya berubah drastic. Hari itu adalah hari Sabtu yang tidak bakal terlupakan dalam nasibku. Pada akhir minggu itu, semacam biasanya kedua orang tuaku sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Mereka bakal kembali minggu depannya. Kebetulan, aku serta adikku juga sedang liburan panjang. Sebenarnya kami ingin ikut dengan orang tua kami keluar kota, tapi orang tuaku melarang kami ikut dengan argumen tidak ingin kami mengganggu urusan bisnis mereka. Biarpun adikku kelihatan menurut, tapi aku tahu kalau dirinya sangat kesal di hatinya. Seusai mereka pergi, aku mencoba untuk menghiburnya dengan mengajaknya nonton DVD baru yang kubeli yaitu Harry Potter and the Order of Pheonix. Tapi kebaikanku dibalas dengan air tuba. Bukan saja dirinya tidak menerima kebaikanku, bahkan dirinya membanting pintu kamarnya di depan hidungku.

Inilah penghinaan terbaru yang dapat kuterima. Akupun melihat DVD sendirian di ruang tamu. Tapi pikiranku tidaklah focus ke film, melainkan bagaimana caranya membalas lakukanan adikku. Di rumah terbukti cuma ada kami berdua. Orang tua kami menganggap bahwa kami tidak memerlukan pesuruh dengan argumen untuk melatih tanggung jawab di keluarga kami. Selintas pikiran ngawur pun melintas di benakku. Aku bermaksud untuk menyelinap ke kamar adikku kelak malam serta memgambar tubuh telanjangnya waktu tidur serta memakainya untuk memaksa adikku supaya menjadi adik yang penurut.
Malam itu, jam memperlihatkan pukul sebelas malam. Aku pun mengedap di depan pintu kamar adikku.

Daun telingaku menempel di pintu untuk memastikan apa adikku telah tertidur. Nyatanya tidak ada suara TV ataupun radio di kamarnya. Terbukti biasanya adikku ini kalau hatinya sedang mengkal, bakal segera berangkat tidur lebih awal. Akupun memakai keahlianku sebagai mahasiswa jurusan teknik untuk membuka kunci pintu kamar adikku. Kebetulan aku terbukti memiliki kit untuk itu yang kubeli waktu sedang tour ke luar negeri. Di tanganku aku memiliki suatu  kamera digital.

Di kamar adikku, lampu tetap terang sebab dirinya terbukti tidak berani tidur dalam kegelapan. Akupun berlangsung perlahan menuju tempat tidurnya. Nyatanya malam itu dirinya tidur pulas terlentang dengan mengenakan daster putih. Tanganku bergerak perlahan serta gemetar menyingkap dasternya ke atas. Dirinya diam saja tidak bergerak serta napasnya tetap halus serta teratur. Nyatanya dirinya memakai celana dalam warna putih serta bergambar bunga mawar. Pahanya begitu mulus serta aku pun dapat melihat ada bulu-bulu halus menyembul keluar di kurang lebih daerah vaginanya yang tertutup celana dalamnya.

Kemudian aku memakai gunting serta menggunting dasternya jadi akhirnya tahap payudaranya terkesan. Di luar dugaanku, nyatanya dirinya tidak mengenakan kutang. Payudaranya tidak begitu besar, mungkin ukuran A, tapi lekukannya sungguh indah serta menantang. Jakunku bergerak naik turun serta akupun menelan ludah melihat pemandangan paling indah dalam nasibku. Kemudian dengan gemetar serta hati-hati, aku pun membuka celana dalamnya. Adikku tetap tertidur pulas.

Pemandangan indah segera terpampang di hadapanku. Suatu  hutan kecil yang tidak begitu lebat terhampar di depan mataku. Sangking terpesonanya, aku hanya dapat berdiri untuk sekian lamanya memandang dengan kamera di tanganku. Aku lupa bakal maksud kedatanganku kemari. Suatu  pikiran setanpun melintas, kenapa aku wajib puas hanya dengan memotret tubuh adikku. Apakah aku wajib mensia-siakan peluang satu hari ini dalam nasibku? Apalagi aku tetap perjaka ting-ting. Tapi kesadaran lain juga timbul di benakku, dirinya adalah adik kandungku., For God Sake. Kedua kekuatan kebaapabilan serta kejahatan berkecamuk di pikiranku.

Akhirnya, sebab pikiranku tidak dapat memutuskan, maka aku membiarkan “adik laki-lakiku” di selangkangku memutuskan. Nyatanya beliau telah tegang siap perang. Manusia boleh berencana, tapi iblislah yang menentukan. Kemudian aku meletakan kamera di meja. Aku pun memakai kain daster yang telah koyak untuk mengikat tangan adikku ke tempat tidur. Sengaja aku membiarkan kakinya leluasa supaya tidak menghalangi permainan setan yang bakal segera kulakukan. Adikku tetap juga tidak sadar kalau bahaya besar telah mengancamnya. Aku pun segera membuka bajuku serta celanaku sampai telanjang bulat.

Kemudian aku menundukan mukaku ke daerah selangkangan adikku. Nyatanya daerah itu sangat harum, kelihatan kalau adikku ini sangat menjaga kebersihan tubuhnya. Kemudian aku pun mulai menjilati daerah lipatan serta klitoris adikku. Adikku tetap tertidur pulas, tapi seusai berbagai lama, napasnya telah mulai memburu. Terus lama, vagina adikku terus basah serta merekah. Aku telah tidak tahan lagi serta mengarahkan moncong meriamku ke celah kenikmatan terlarang itu. Kedua tanganku memegang pergelangan kaki adikku serta membukanya lebar-lebar.

Ujung kepala penisku telah menempel di bibir vagina adikku. Sejenak, aku ragu-ragu untuk melakukannya. Tapi aku segera menggelengkan kepalaku serta membuang jauh keraguanku. Dengan suatu  sentakan aku mendorong pantatku maju ke depan serta penisku menembus masuk vagina yang tetap sangat rapat tetapi basah itu. Suatu  teriakan nyaring bergema di kamar,” Aaaggh, aduh….uuuhh, KAK ADI, APA YANG KAULAKUKAN??” Adikku tersadar serta menjerit melihatku berada di atas tubuhnya serta menindihnya. Muka adikku pucat pasi ketakutan serta menahan rasa sakit yang menarik. Matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan pinggulnya bergerak-gerak menahan rasa sakit. Tangannya berguncang mencoba melepaskan diri. Begitu juga kakinya mencoba melepaskan diri dari pegangannku. Tetapi semua upaya itu tidak sukses. Aku tidak berani berlama-lama menatap matanya, khawatir kalau aku bakal berubah pikiran. Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah selangkangan. Nyatanya vagina adikku mengeluarkan darah, darah keperawanan.

Aku tidak menghiraukan semua itu sebab suatu  kenikmatan yang belum sempat kurasakan dalam nasibku menyerangku. Penisku yang bercokol di dalam vagina adikku merasakan rasa panas serta kontraksi otot vagina adikku. Rasanya semacam disedot oleh suatu  vakum cleaner. Aku pun segera menggerakan pinggulku serta memompa tubuh adikku. Adikku menangis serta menjerit:”

Aduhh..aahh..uuhh..am..pun..ka k…lep..as..kan..pana ss…sakitt!!” “Kak..Adii..mengo..uuhh..yak.. aduh…tubuhku!!! ” Aku tidak tahan dengan rengekan adikku, sebab itu aku segera memakai celana dalam adikku untuk menyumpal mulutnya jadi yang terdengar hanya suara Ughh..Ahhh.

Seusai kurang lebih lima belas menit, adikku tidak meronta lagi hanya menangis serta mengeluh kesakitan. Darah tetap berkucuran di kurang lebih vaginanya tapi tidak sederas tadi lagi. Aku sendiri memeramkan mata merasakan kenikmatan yang menarik. Aku terus cepat menggerakan pinggulku sebab aku merasa bakal segera mencapai klimaksnya. Sesekali tanganku menampar pantat adikku supaya dirinya menggoyangkan pinggulnya sambil mengatakan:’ Who is your Daddy?” Suatu  dilema timbul di pikiranku. Wajibkah aku menembak di dalam rahim adikku alias di luar? Aku tahu kalau aku ingin melakukannya di dalam, tapi bagaimana bila adikku hamil? Ahh… biarlah itu urusan nanti, apalagi aku tahu di mana ibuku menyimpan pil KBnya. Tiga menit kemudian..crott..crottt..akupu n menembakan cairan hangat di dalam rahim adikku. Keringat membasahi kedua tubuh kami serta darah keperawanan adikku membasahi selangkangan kami serta sprei tempat tidur.

Aku membiarkan penisku di dalam vagina adikku selagi berbagai menit. Kemudian seusai puas, aku mencabut keluar penisku serta tidur terlentang di samping adikku. Aku kemudian membebaskan tangan adikku serta membuka sumpalan mulutnya. Kedua tanganku bersiap untuk menerima amukan kemarahannya. Tetapi di luar dugaanku, dirinya tidak menyerangku. Adikku hanya diam membisu seribu bahasa serta tetap menangis. Posisinya tetap tidur serta hanya punggungnya yang mengadapku. Aku melihat tangannya menutup dadanya serta tangan lainnya menutup vaginanya. Dirinya tetap menangis tersedu-sedu.
Seusai semua kepuasanku tersalurkan, baru sekarang aku bimbang apa yang wajib kulakukan selanjutnya. Semua kejadian ini di luar rencanaku. Aku sekarang sangat ketakutan membayangkan bagaimana kalau orang tuaku tahu. Nasibku dapat selesai di penjara. Kemudian pandangan mataku berhenti di kamera. Suatu  ide jenius timbul di pikiranku. Aku mengambil kameranya serta segera memgambar tubuh telanjang adikku. Adikku melihat lakukananku serta bertanya: ”Kak Adi, Apa yang kau lakukan? Hentikan, tetap belum cukupkah lakukanan setanmu malam ini? Hentikan…” Tangannya bergerak berusaha merebut kameraku. Tetapi aku telah memperkirakan ini serta lebih sigap. Sebab tenagaku lebih besar, aku berhasi menjauhkan kameranya dari jangkauannya. Aku mencabut keluar memori card dari kameranya serta mengatakan: “Kalau kalian tidak mau gambar ini tersebar di situs sekolahmu, kejadian malam ini wajib dirahasiakan dari semua orang. Kalian juga wajib menuruti perintah kakakmu ini mulai sekarang.”

Wajah adikku pucat pasi, serta air mata tetap berlinang di pipinya. Kemudian dengan lemah dirinya mengganggukkan kepalanya. Suatu  perasaan ibaratnya telah memenangi piala dunia, bersemayam di dadaku. Aku tahu, kalau mulai malam itu aku telah menaklukan adikku yang keras kepala ini. Kemudian aku memerintahkan dirinya untuk memselesaikan ruangan kamarnya serta menyingkirkan sprei bernoda darah serta potongan dasternya yang koyak. Tidak hanya itu aku segera menyuruhnya meminum pil KB yang kudapat dari lemari obat ibuku. Terbaru aku menyuruhnya mandi membersihkan badan, pasti saja bersamaku. Aku menyuruhnya untuk memakai jari-jari lentiknya untuk membersihkan penisku dengan lembut.

Malam itu, aku telah memenangkan pertempuran. Selagi seminggu kepergian orang tuaku, aku rutin meniduri adikku di setiap peluang yang ada. Pada hari keempat, adikku telah terbiasa serta tidak lagi menolakku biarpun dirinya tetap kelihatan kecewa serta tertekan setiap kali kami bercinta. Aku juga memerintahkannya untuk membersihkan rumah serta memasakan makanan kesukaanku. Aku juga memberi tugas baru untuk mulut mungil adikku dengan bibirnya yang merah merekah. Setiap malam selagi seminggu ketika aku melihat TV, aku menyuruh adikku untuk memberi oral seks. Serta aku rutin menyemprotkan spermaku ke dalam mulutnya serta menyuruhnya untuk menelannya.

Ketika orang tuaku kembali minggu depannya, aku memerintahkan adikku untuk bersikap sewajarnya menyambut mereka. Ketika ibuku memeluk adikku, aku melihat wajah adikku yang semacam ingin mengabarkan momen yang terjadi selagi seminggu ini. Aku pun bertindak cepat serta mengatakan pada ibuku: “Ibu, gimana perjalanan ibu? Tunjukan dong FOTOnya terhadap kami berdua.” Ibuku tersenyum mendengar ini serta tidak mencurigai apa pun. Tapi adikku menjadi sedikit pucat serta tahu makna dari perkataanku. Dirinya pun tidak jadi mengatakan apa-apa.

Sejak itu, setiap kali ada peluang, aku rutin meniduri adikku. Pasti saja kami mempraktekan safe sex dengan kondom serta pil. Seusai dirinya lulus SMA, kami tetap melakukannya, bahkan sekarang dirinya telah menikmati permainan kami. Terkadang, dirinya sendiri yang datang memintanya. Ketika dirinya lulus SMA, aku yang sekarang telah bekerja di suatu  bank bonafid dipindahkan ke Jakarta. Aku meminta orang tuaku untuk mengijinkan adikku kuliah di Jakarta. Pasti saja aku beralasan bahwa aku bakal menjaganya supaya adikku tidak terseret dalam pergaulan bebas. Orang tuaku setuju serta adikku juga pasrah. Sekarang kami berdua tinggal di Jakarta serta menikmati keleluasaan kami. Faktor yang tidak sama hanyalah aku dapat melihat bahwa adikku telah berubah menjadi gadis yang lebih binal.

Bercinta Dengan Penjaga Losmen Perkasa


MusimBokep - Rando (24thn) dan pacarnya Citra (22thn), mereka tetap sama-sama duduk dibangku kuliah di suatu  universitas populer di kota malang. Pacar Rando (Citra) mempunyai paras yang cantik dengan dada dan pinggul yang bisa dibilang montok, ditunjang pula dengan tubuh yang langsing semacam model jadi tidak heran tidak sedikit kawan-kawan Rando yang merasa sirik dan cemburu ketika Citra memutuskan untuk berpacaran dengan Rando.

“Anjirrr Di, pacar loe bener-bener kayak bidadari dech.. udah cantik, baik pula, beruntung banget loe dapetin dia!” hampir kawan-kawan Rando bilang begitu… Setiap liburan mereka tidak jarang menginap di suatu  losmen favorit mereka di daerah wisata S********* dibilangan kota batu.

Tanpa sadar setiap mereka menginap di villa itu ada sepasang mata yang rutin mengawasi mereka khususnya Citra. Sebut saja Budi (45) suami dari Yanti (37) perawat villa yang biasa mendampingi handuk bersih dan sabun setiap ada tamu yang datang. Budi berkerja sebagai penjaga gerbang divilla itu. Dan Budi sangat hafal hari dan jam berapa Rando dan Citra datang. Sore itu Yanti telah berkemas-kemas sebab ada keluarganya yang sakit di Surabaya.

Tetapi sebab ada tamu datang dirinya ingin menyiapkan kebutuhan tamunya dulu. Disinilah niat jahat Budi muncul, Sebab sebetulnya Budi telah lama terpesona dengan kemolekan tubuh Citra. Ketika Yanti hendak mendampingi kebutuhan tamunnya dengan sigap Budi menghentikannya

“Bu’e pergi saja…nanti kemaleman dijalan, biar saya saja yang mendampingi kebutuhan tamu”, ujar Budi.

“Baiklah pa’e..titip rumah sama villa ya..bu’e sama Tole (anak laki-lakinyanya) paling cuma pergi 2 hari”, dan tdk lama seusai itu Yanti pulang kerumah yang terbukti berada dibelakang villa untuk kemudian pergi. Budi pun tersenyum lebar mendengar ucapan Yanti.

Sementara itu didalam kamar Rando sedang mengecek kado yang terbukti telah dibawanya. Hari itu Citra terbukti sedang berulang tahun dan Rando bermaksud ingin memberbagi kejutan terhadap Citra.

” Yank aku punya kado special niy buat kalian ” sambil memperlihatkan suatu  bungkasan kecil terhadap Citra.

” Apa itu Yank…? ” Tanya Citra sambil tersenyum.

” Wah tapi ada saratnya nih “. Jawab Rando.

” Apa sih saratnya? kalian bikin penasaran aja dech” ujar Citra.

” Mata kalian wajib ditutup dulu dan jgn dibuka hingga aku yang bukain “.

” OKe..!! “jawab Citra bersemangat. Seusai menutup rapat mata Citra , Rando berniat memasangkan cincin ketika Citra sedang bugil,

dan mereka dikelilingi lilin ketika bercinta. Ketika sedang asik dengan lili-lilinnnya Rando terkejut mendengar suara pintu kamar mereka diketuk.

” Sebentar ya yank itu paling Bu Yanti nganterin anduk sama sabun ” ujar Rando. Mendengar ucapan Rando, Citra hanya menganggukan kepalanya.

Sempet kaget juga pas membuka pintu yang mendampingi bukannya Bu Yanti tapi malah Pak Budi.

“Loh kok malah Bapak yang nganterin ??”, tanya Rando bingung.

“iya mas istri baru saja menjenguk sodaranya yang sakit diSurabaya, sebab takut kemalaman makanya biar saya saja yang mengantarkan”, jawab Budi ramah.

Ketika sedang memberbagi handuknya, tiba-tiba saja Budi langsung mendekap tubuh Rando yang terbukti lebih kecil dari belakang.

Lalu leher tahap belakang Rando dipukul dan seketika itu pula Rando pingsan. Sebetulnya letak villa itu jauh dari keramaian dan sedikit terpencil, tetapi supaya tdk menggangu aksi busuknya Budi mengikat tangan dan kaki Rando juga tdk lupa menyumpal mulut Rando dengan kertas dan diplester. Seusai merasa lumayan aman Budi mengunci pintu dan mendudukan Rando disebuah kursi yang dihadapkan kespring bed. Ketika menonton Citra yang duduk diranjang dngn mata tertutup Budi tampak bahagia

” Wah gak butuh susah payah ngentot nih anak, tentu dirinya pikir saya pacarnya ” ujar Budi dalam hati.

” Yank kok lama sih surprisenya?? ” tanya Citra terus.

” Apa Surprise ?”. Senyum Budi terus mengembang.

Budi Cuma diam dan dirinya langsung menghampiri Citra lalu coba membuka resleting jaketnya. Budi sangat terkejut seusai menanggalkan jaket Citra, Sebab nyatanya dirinya langsung bisa menonton dua bukit kembar sebesar jeruk bali hanya ditutupi bra sedikit trasnparan bewarna merah. Budi menolong Citra berdiri, sebab yakin itu Rando Citra mulai membuka bra dan jeans ketatnya. Budi pun terus melenelan ludah dalam-dalam dan setengah tidak percaya apa yang sedang dilihatnya.

“mimpi apa aku semalem?” pikir Budi. Citra coba meranggkul dan mencium Budi sebab dirinya pikir itu Rando.

Tapi buru-buru Budi menahan bibir mungil Citra

“ssssssssttttttt,,,,,,”. Citra pun terdiam.

Budi menuntun Citra berbaring diranjang dan mengikat kedua pergelangan tangannya diujung ranjang. Citra terkesan pasrah sambil berucap,

“aduuh yank kok pake diiket-iket segala sih, langsung kesurprisenya aja dong aku dah gak tahan nih…”. Mendengar suara Citra yang manja Budi langsung mengawali menjilati kaki Citra yang sengaja tidak diikatnya,

“ sssshhh geli yank “ Citra mendesah merasakan ada lidah yang mengjilati seluruh kakinya. Desahan Citra terus menjadi ketika lidah Budi mulai mengarah kepaha dan selangkangan.

Lidah Budi sempat terhenti didepan memek yang tetap terbungkus G-string. Budi sedikit menggeser dan mulai memainkan lidahnya dibibir memek Citra.

Sesekali lidahnya dimasukan dalam-dalam ke memek yang terbukti jauh lebih wangi dibandingkan milik istrinya. Citra sedikit kaget ketika jari yang lebih besar mulai dimasukkan kedalam lobang nikmatnya. Tapi Citra hanya bisa menikmati perlakuan “terus yank..lebih dalam lagi”. Ujarnya terus lirih sebab birahinya mulai memuncak. Hampir 10 menit Budi menjilat klirotis dan mengocok memek Citra ketika tiba-tiba seluruh badan Citra menegang dan menyemburkan cairan kewajah Budi. Tubuh Citra tetap lemas sebab orgasme pertamanya ketika Budi bangun dan membuka seluruh pakainnya.

Tamparan keras menyadarkan Rando .

“ Hey bego jgn pingsan aja, kalian wajib liat pacar kalian bakal ketagihan ngerasain rudal saya yang besar ini…hahaha”. kalimat itu yang dibisikan Budi ketelinga Rando.

“ Hhmmmmppphhhh”. Cuma itu yang bisa Rando ucapkan.

Rando sempat terpaku ketika menonton ukuran penis Budi yang 3x lebih besar dibanding miliknya. Tampak pas dengan badan kekar dan hitamnya. Tapi Rando hanya bisa menggoyang-goyangkan kursi sambil mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya yang terkendala plester. Tampak wajah penuh penolakan menonton sebentar lagi wanita yang sangat dikasihinya bakal digenjot oleh pria lain yang mempunyai penis 3x lipat lebih besar dari miliknya. Rando hanya bisa pasrah menyaksikan momen itu.

Rando hanya bisa menonton dari samping ranjang dengan tangan dan kaki terbelit dan mulut yang disumpal ketika Budi mulai menaiki ranjang melepas penutup terbaru di tubuh Citra. Budi melirik sambil tersenyum kearah Rando ketika rudal miliknya digesek-gesekkan kememek Citra yang terbukti baru dicukur.

“ Ssssshhh Yank ayo dimasukin aku udah gatel banget nih “. Desah Citra.

Budi yang terbukti telah sangat bernafsu mulai mencoba memasukan penisnya perlahan, baru topi bajanya yang masuk bibir memek & klirotis Citra telah ikut berminat kedalam .

4 hingga 5 kali dorongan barulah seluruh penis Budi menghilang ditelan memek sempit Citra.

” aaaaaacchh “, erangan panjang dari mulut Citra. Dirinya sangat bimbang kenapa penis Rando bisa jadi sangat besar ,

“apa ini surprise dari Rando…? “ pikir Citra. Yang jelas ada sensasi yang jauh lebih nikmat dirasakan Citra ketika penis yang jauh lebih besar menyundul mulut rahimnya seolah-olah tdk ada tempat lagi dilobang memeknya.

“ Kok bisa lobang sesempit itu dimasukin penis sebesar itu???”, pikir Rando.

Budi yang terbukti jauh lebih pengalaman coba memainkan birahi Citra. Sambil memejamkan mata dirinya hanya mendiamkan penis besarnya dilobang Citra. Dan saat merasa Citra telah mulai bisa menerima barulah Budi memaju mundurkan pantatnya pelan-pelan.

“aaachh sssshh”,hanya suara itu yang bisa Citra ucapkan.

Budi pun makin bersemangat mendengarkan desahan-desahan Citra. Menonton adegan ini tanpa sadar Batang Rando menegang. Sebab belum sempat Rando menonton Citra digenjot pria lain didepan matanya.

Hampir 20 menit tubuh putih mulus Citra digarap Budi. Citra tampak lemas sebab selagi ditunggangi Budi sempet 2x Citra orgasme.

Rando hingga terheran-heran sebab biasanya Citra jarang bisa orgasme. Apalagi tidak jarang kali Rando telah keburu keluar ketika Citra baru mau hingga. Mengenal Citra melemah Budi menghentikan gerakannya. Ada rasa lega tapi juga kehilangan dirasakan Citra ketika penis Budi dicabut dari lobangnya.

Cerita Dewasa ML Penjaga Villa Yang Perkasa Memuaskan – Memahami kelelahan Citra , kedua puting mungil Citra dihisap dalam-dalam oleh Budi. Lidah Budi perpetualang keseluruh dada dan leher Citra. Sambil sesekali Budi memasukan kepala penisnya ke lobang Citra. Terkesan bekas merah bekas cupangan Budi didaerah dada dan leher Citra. Menerima serangan ini birahi Citra kembali naik .

“Yank masukin lagi ya” , ucapan terbaru Citra sebab ketika Budi kembali menggenjot memek sempit Citra hanya rintihan dan erangan yang keluar dari bibir Citra.

5 menit berselah Budi tetap terlalu perkasa hingga akhirnya terpikir oleh Budi untuk membuka penutup mata Citra supaya dirinya tau bahwa yang sebenanya sedang menungganginya bukan pacarnya melainkan Lelaki biadab bernama Budi.

Sambil menghisap puting Citra , Budi coba membuka kain yang dipakai untuk menutup matanya.

“Paaachh ooch jaanggannh’’, Citra tidak percaya apa yang sedang terjadi. Dihadapannya ada Bapak-bapak tua yang sedang mengerjainya.

“ampuuunnhh paaacckh , suudaaahh “, pinta Citra memelas.

Saat matanya menatap Rando tidak berdaya ada rasa kecewa tapi rasa itu berubah menjadi nikmat saat penis Budi terus menghujam memek yang selagi ini hanya diberbagi terhadap Rando.

Citra juga kagum merasakan keperkasaan Budi sebab telah hampir 1 jam Citra digarap Budi belum ada tanda-tanda Budi mau mengeluarkan spermanya malahan Citra terus mengalami orgasme beruntun.

“ ssssshhhh aaaccch suuudaaah paaakkhh “, sesekali ucapan itu keluar saat serangan rudal raksasa milik Budi terus menerus diterimanya.

Sebetulnya Citra juga menikmati pergumulan itu hanya saja di rutin memalingkan wajahnya dari hadapan Rando yang dari tadi memperhatikan mereka. Citra tetap menjaga perasaan Rando.

Lagi-lagi Citra hampir mencapai puncak begitupun Budi, mengenal faktor itu Budi mempercepat gerakannya, selain itu Budi juga membuka ikatan tangan Citra.

“aakkuu keeeluuarrh paakhh” , Teriak Citra.

“ Iyaaa Saayaangg akkuu juuggaa..aaachhhh “. Dan yang membikin Rando sangat tercengang menonton kejadian itu , dimana tangan Citra yang telah tdk terbelit menekan erat-erat pantat Pak Budi seakan tau mau melepasnya ketika cairan hangat menyembur dari memek sempitnya.

Disaat yang sama Budi menumpahkan begitu tidak sedikit sperma di liang memek Citra, faktor yang belum sempat diperbuat Rando sebelumnya karna takut Citra hamil. Tapi terbukti birahi Citra yang telah tdk terkontrol lagi Citra telah tdk peduli bakal faktor itu. Rando berpikir Citra juga menikmati perlakuan Budi terhadapnya.

Dan yang lebih membikin Rando cemburu sekaligus marah ketika sadar alias tdk Citra melumat Budi dengan penuh mesra dan tanpa paksaan layaknya suami istri yang kelelahan seusai habis-habissan bertarung diranjang. Seusai rudal Budi mulai mengecil barulah dirinya luar biasanya dan bangun. Citra tampak sangat kelelahan .

“ Nak cantik kini ayo kami mandi dan jangan melawan kalau tetap mau selamat “ ujar Budi dengan nada mengancam.

Citra sempat menonton Rando dan bilang “ sorry honey “. Rando pun hanya pasrah menonton Citra digiring kekamar mandi yang ada aspek kamar. Dan Rando hanya bisa membayangkan apa yang bakalan terjadi disana.

Akal bulus Budi tdk berhenti hingga disitu sesampainya dikamar mandi Budi teringat ucapan Citra mengenai Surprise akhirnya dirinya coba menghasut Citra.

“ maaf ya cantik, saya sebenernya tdk mau meperbuat faktor ini ke wanita baik-baik semacam kamu”. Ujar Budi coba mempengaruhi Citra.

“ Tapi sebetulnya semua ini rencana pacar kalian itu. Dirinya meminta saya menjalankan kemauannya untuk membikin kejutan kepadamu”.

“Pacarmu bilang dirinya pengen ngeliat kalian dientot lelaki lain”. Budi memperjelas lagi.

“ Apaaa…!! Jadi ini scenarionya Rando. Sial betul dia, terbukti aku cewe apaan..” Citra naik darah mulai terhasut kebohongan Budi.

“ Baiklah klo itu mau nya, dirinya bakal menonton semuanya.” Ujar Citra lagi.

Citra yang emosi sebab tipuan Budi berubah menjadi binal. Dirinya membuka pintu kamar mandi dan hebat Budi disudut kamar mandi. Dari arah itu Rando bisa menonton dengan sangat jelas Citra dan Budi saling bertukar lidah sambil berpelukan mesra. Rando pun terus binggung menonton perubahan sikap Citra itu. Citra yang tadinya pendiam dan sempat iba menonton Rando berubah menjadi binal dengan tatapan matanya seakan ingin memperlihatkan sesuatu terhadap Rando.

“ aaachhh enakkhh sayaaanghh “ ringis Budi keenakan ketika lidah Citra mulai menjalar keleher dan menghisap puting hitam Budi.

Tdk berhenti hingga kesitu jilatan Citra mulai turun keselangkangan Budi. Penis besar itu mulai dihisap Citra, meski terkesan agak kesusahan tapi batang Budi bisa dihisapnya dalam-dalam sambil sesekali jilatannya diarah kan ke buah pelir Budi dengan lihai.

Budi hebat Citra berdiri dan membalik tubuh sexy Citra menghadap ke pintu. Budi jongkok dan mulai menghisap rakus kemaluan Citra.

“ Yaa sayaanggh isaaaph teerrruuuzz sshhhh”, racau Citra mulai bangkit lagi birahinya.

Budi mulai kesetanan dirinya berdiri dan mulai memasukan batangnya kememek Citra.

“ sssshhh ooohhh” Desah Citra saat seluruh batang Budi dimasukkan.

Budi mulai menggenjot sambil tangannya meraba dan memutar-mutar kedua puting Citra dari belakang.

“plok plok plok plok” terdengar suara dua kelamin yang beradu.

“penis muuu enaaak sayaangg…teruuuzz entooot akuu…”. Budi tdk bisa menjawab sebab tiba-tiba Citra menengok kebelakang dan langsung menyambar bibir Budi.

Citra yang birahinya telah tidak beraturan menahan gerakan Budi dan melepaskan kemaluaannya, kemudian menyuruh Budi duduk diclosed dan menaiki batang perkasa Budi. Bak penunggang Rodeo Citra bergoyang sangat liar.

15 menit berselang Budi mencoba berdiri sambil menggendong Citra dengan penis yang tetap menancap. Dan tanpa instruksi Budi menutup pintu kamar mandi untuk kemudian kembali mengerjai Citra sepuas hatinya. Rando penasaran bakal apa yang terjadi didalam sana. Hanya jeritan kenikmatan Citra dan Budi yang bisa didengar Rando. Selagi 40 menit didalam sana Rando sempat mendengar berbagai kali Citra berteriak histeris menandakan lagi Citra mendapat orgasme beruntun dan terbaru Budi melenguh panjang. Rando baru bisa bernafas lega ketika jeritan-jeritan tadi menghilang dan hanya terdengar suara kucuran shower menandakan 2 insan didalamnya sedang mandi bersama layaknya kekasih yang sedang kasmaran.

Budi dan Citra telah berlilitkan handuk sekeluarnya dari sana. Citra menggandeng tangan Budi dan bilang “ sayang abis ini kami makan dulu yuk, aku laper nih…” ajak Citra manja. Budi menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian mereka berpakaian , Citra sama sekali tdk melirik kearah Rando seolah-olah hanya ada Citra dan Budi diruangan itu. Akhirnnya Rando hanya bisa mendengar pintu ditutup dan suara motor yang mulai menjauh meninggalkannya sendiri. Udara kota Batu yang dingin membikin Rando tertidur.

2 jam berselang Rando tetap tertidur diposisinya semula. Hingga akhirnya Rando tersadar dan menonton Budi berjongkok membelakanginya sambil bibirnya menjelajahi seluruh kemaluan Citra yang duduk dipinggir ranjang sambil tangannya menjambak rambut Budi. Menyadari korbannya tersadar Budi menghentikan aktifitasnya.

“ Sayang aku mau liat dong , seberapa kuat laki-laki sialan ini “. Citra tersenyum seolah tau kemaun Budi dengan sigap Citra pun membuka celana Rando dan langsung memasukan batang Rando yang terbukti telah berdiri menonton adegan Citra dan Budi barusan.

Tanpa komando Citra mulai bergoyang dipangkuan Rando. Citra merasakan hambar sebab batang Rando terbukti tdk seperkasa milik Budi.

15 detik bersi kukuh akhirnya Rando mengeluarkan spermanya. Citra terus mempercepatnya kocokannya tapi tersadar sebab penis Rando tiba-tiba menciut dan keluar sendiri dari lobang Citra. Sambil berdiri Citra membersihkan memeknya dengan handuk.

“ Ach bikin kotornya aja nih..!!! emang dasar cowo loyo…!!!”, Citra marah-marah.

Sambil tersenyum puas Budi mengampiri Rando ,

“Hey tolol Cuma segitu performamu ?”. bentak Budi

“ Kini kalian liat bagaimana sewajibnya memperperbuat wanita secantik ini” ucapnya terhadap Rando.

Merasa senang Citra pun memeluk mesra tubuh kekar Budi seraya berucap,

“ Ach sayang kalian bisa aja, ayo kami mulai lagi…aku dah gak tahan disodok punyamu yang perkasa ini, gak kaya punya cowo sialan itu…LOYO …!!!sambil menggengam batang Budi. Rando Cuma terus lemas dan pasrah mendengar ucapan Citra tadi.

Sepanjang malam itu Citra dan Budi menumpahkan birahinya diatas ranjang pastinya dihadapan Rando. Semua posisi dicoba oleh Budi. Entah berapa kali Budi telah memuncratkan spermanya dimemek sempit itu. Sedangkan Rando juga berulang kali mendengar jeritan histeris dari Citra saat memperoleh orgamse. Barulah kurang lebih pukul 3 pagi Citra tertidur dipelukan Budi. Rando bisa menonton Budi dan Citra yang tdk berbusana ketika tertidur sambil berpelukan mesra layaknya suami istri yang kelelahan seusai bertarung habis-habisan diranjang. Rando hanya bisa terdiam menyaksikan kejadian itu dan akhirnya Rando pun tertidur tanpa bisa berbuat apa-apa.

Musim Bokep : Perjakaku Hilang di Tangan Bibiku


Ini merupakan kisahku pada waktu aku tetap SMP kelas tiga di kota kembang, waktu itu aku ada liburan di rumah kakekku di daerah lembang, disana tinggal kakek serta keluarga bibi ku. Bibiku merupakan kasir suatu  bank sebab menikah dengan pamanku yang satu kantor dirinya mengundurkan diri serta hanya sebagai bunda rumah tangga, orangnya ayu, putih berlesung pipit dengan usia kurang lebih 27 tahunan. Dirinya tinggal dirumah kakekku sebab rumahnya sedang dibuat di daerah bogor sedang suaminya (adik ayahku) tinggal di kost serta pulang seminggu sekali.

Aku serta bibiku sangat bersahabat sebab dirinya terbukti tidak jarang main kerumahku sewaktu belum berkeluarga serta waktu kecil tidak jarang tidur di kamarku bahkan waktu kuliah dirinya lebih tidak sedikit tidur dirumahku dari pada ditempat kostnya. Anaknya tetap kecil berusia kurang lebih 1 tahun.
Suatu pagi aku kaget ketika seseorang membangunkanku dengan mengangkat segelas teh hangat, “Bangun…. Males amat kalian disini biasanya kan telah nyiramin taneman sama nyuci mobil”
“Males ah, liburan masak suruh kerja juga….”
“Lha masak kakekmu yang telah tua itu suruh nyiramin bunga sendiri serta mobilku siapa yang nyuci…”
“Kan ada bi ijah “
“Bi ijah lagi sakit dirinya gak sempet…, bangun bangun ah males ya” dicubitnya pinggangku
“Udah udah geli ampun….” Kataku bangun sambil mendorong mukanya.

Kakekku pulang dari jalan paginya serta asik berbincang dengan kawannya diruang tamu. Aku kemudian beranjak ke kamar mandi baru membuka baju bibiku mengetuk pintu ”Rik mandinya di sungai sekalian temenin aku nyuci, lagi mati lampu nih….. andi biar di jaga kakek”
“Ya siap boss…” ku buka pintu serta mengangkat cucian seember besar ke belakang rumah, bibiku mengikutiku sambil mengangkat handuk, pakaian ganti serta sabun cuci. Di belakang rumah ada jalan kecil yang tembus ke sungai di pinggir kampung sungai itu dulu sangat ramai oleh penduduk yang mandi alias mencuci tapi kini telah jarang yang memakai, hanya sesekali mereka mandi disungai.

“Sana di belakang batu itu aja, tempatnya adem enak…” dibelakang batu itu tersedia ajaran kecil serta batu batu pipih disekelilingnya tumbuh-tumbuhan lebat itu kami bermaksud mencuci..nyatanya telah ada seorang wanita muda yang sedang mandi mengenakan kain batik nyatanya wulan tetangga sebelah rumahku
“eh rik tumben mau ke sungai….” Katanya ramah
“Ya nih di paksa bos… “
“Wah kalah duluan nih, nyuci juga kalian wul “
“Aku dah dari tadi.. kalo listips mati gini baru pada ke kali, kalo gak pakaian bayiku siapa kapan keringnya”
katanya sambil keluar dari sungai serta mengambil handuk di tepi sungai.

Selendang batik itu membentuk lekuk tubuhnya pada tahap depan terkesan dengan jelas sembulan dua buah dada yang sangat besar, sedang ditengah leher putihya tersedia suatu  kalung tipis yang membikin dirinya terkesan ramping, ia kemudian membelakangi kami serta melepas selendang itu kemudian mengusapkan handuk ke sekujur tubuhnya.

Kontan saja aku kaget menonton pemandangan itu, mesikipun membelakangiku tapi aku dengan jelas bisa menonton seluruh tubuh putihnya itu tanpa sehelai benangpun, bokongnya yang berisi telihat jelas seusai dirinya mengusap tubuhnya saat ini ia mulai membilas rambutnya yang panjang jadi seluruh tubunya bisa kulihat, ketika aku membasahi cucian kemudian duduk
”Kapan kalian kesini rik..”sambil memiringkan tubuhnya karuan saja tetek gedhenya terkesan, aku kaget dengan pertanyaannya.
“Apa wul aku lagi gak konsen..” ia memalingkan badan kearahku
“Ati-ati disungai jangan ngelamun, kalian kapan datang..”
“Oh aku baru kemarin..” kataku sambil mencelupkan baju-baju ke air sedang mataku pasti saja mengarah ke kedua teteknya yang tanpa sengaja diperlihatkan,.
Bibiku bergerak menjauhi kami, mencari tempat untuk buang air sebab dari tadi dirinya kebelet beol.

“Anakmu umur berapa teh.. kok gak diajak “ kataku
“Masih 1 tahun setengah, tadi sama adikku jadi aku tinggal nyuci” seusai rambutnya agak kering ia kemudian memasang
handuknya dipinggangnya serta membalikkan tubuhnya tangan kanannya menutupi mencoba menutupi teteknya yang berkapasitas wah itu mesikipun akhirnya yang tertutupi cuma kedua putingnya sedang tangan kirinya mencari celana dalam di atas batu itu seusai menemukannya, dirinya kemudian membalikkan badannya serta menaikkan handuknya, celana dalam
berwarna putih itu terkesan lumayan tipis serta seksi di pinggir-pinggirnya ada bordir kecil bermotif bunga.

“Anakmu siapa namanya…?”
“Intan.. cantikkan “ ia berbalik, pakaian dalam tipis telah menutupi memek serta pinggangnya itu sejenak dirinya menontonku serta kemudian melepaskan tangan kanannya dari teteknya semacamnya dirinya enjoy menunjukan teteknya padaku sebab dari tadi aku pura-pura cuek serta pura-pura membasuhi baju kotor padahal adikku sedari tadi gelisah.
Ia kemudian duduk serta membilas selendang batiknya
“Cantik sih namanya.. tapi belum lihat wajahnya secantik emaknya gak ya..”
“Ya pasti.. emaknya aja cantik anaknya ikut donk “katanya arogan, kusiramkan air ke arahnya segera ia berdiri serta
membalas siramanku
“Maaf salah cetak wajibnya, maknya aja jelek apalagi anaknya…” kami pun akhirnya saling menyiramkan air seusai berbagai saat dirinya kewalahan menahan seranganku.

“Ampun ampun…” katanya sambil ketawa cengengesan, akupun menghentikan seranganku tapi kemudian dirinya malah berdiri mengambil ember serta menghampiriku menyiramku jadi seluruh bajuku basah kuyup, aku kaget serta reflek mengambil ember ditangannya dirinya kemudian membalikkan badan untuk menjauhkan darinya, tanpa sadar tubuhku memeluknya serta satu tanganku ada pada dadanya yang terbuka. Akhirnya aku bisa meraih ember itu, ia berusaha melepaskan dari dekapanku tapi sia sia aku telah siap, ku ambil air serta meletakkanya diatas kepalanyaa
” Ampun ri,, aku dah mandi.. awas lo ntar tidak bilangin kakekmu “ aku tetap saja memegang badannya serta mengancam, akhirnya ia berbalik serta dengan bebas aku menyiram ke sekujurtubuhnya kemudian tanganku mengelus elus tubuhnya
”nih aku mandiin lagi hehehhe,……” sekujur tubuhnya basah tergolong celana dalamnya jadi isi didalamnya samar
samar terkesan, kami tertawa geli dicubitnya pinggangku hingga agak lama ”aduh ampun sakit “kataku sambil luar biasa
tangannya, untuk berbagai saat kami saling memandang sambil tertawa geli, kami kemudian ke tepi sungai untuk
mengambil handuk, ia kemudian kembali menyeka air ditubuhnya sementara aku sambil duduk disampingnya sembari
menyeka air di kepalaku.

Wajahnya tampak cemberut di usapkannya handuk ke muka serta rambutnya kemudian mulai turun ke dua buah dadanya kemudian turun ke perutnya yang kecil kemudian turun ke selangkangannya kemudian dirinya merunduk serta menyeka kakinya, kemudian melemparkan handuknya yang basah ke mukaku, aku kemudian memakai handuknya itu untuk mengusap muka (lumayan aroma tubuhnya tetap nempel nih) aku kemudian mengembalikan padanya. Di ikatkannya handuk itu di pinggang kemudian duduk cocok di depanku serta di turunkannya celana dalamnya, sebab ikatannya tidak lebih kuat seusai celana dalamnya sukses melalui kaki indahnya handuk itupun ikut terbuka jadi isi selangkanganya terpampang di depanku.

“Eit…” katanya sambil tangan kanannya menutupi memeknya, aku tersenyum
“Kelihatan nih ye…” kataku sambil memalingkan muka, kakinya menendang tubuhku, kemudian di usapkannya handuk
itu ke tengah selakangannya yang tetap lumayan basah sebab mengenakan celana dalam basah. Aku kemudian memandang kembali kearahnya nampaknya dirinya merasa enjoy saja mengenal memeknya dilihat aku, diusapkannya ke arah rambut-rambut pubis tipisnya kemudian ia mengusap bibir-bibir coklatnya bawahnya yang tetap kencang sambil
tersenyum sendiri
“Awas bisa gila lho tersenyum sendiri…” ia menghentikan usapannya sambil membetulkan posisinya
“Ia kalo lama-lama deket sama kalian bisa gila …” katanya sambil berdiri
“Eh, aroma …” sambil kututup hidungku yang cocok berada didepan memeknya
“Seger lagi coba cium, katanya sambil hebat mukaku serta menempelkannya pada memeknya yang telah ditutupi salah
satu tangannya. Tanganku mengambil tangan yang menutupinya
“Rambutnya kok gak rapi gak sempat dicukur ya,,,,” kubelai rambut bawahnya kemudian bergerak membuka kedua
bibir bawahnya ”Dah punya anak tetap kenceng aja nih kulit..” kataku sambil megelus elus memeknya dengan handuk
sementara dirinya membalut tubuhnya dengan handuk jadi kepalaku berada didalamnya.

Aku kaget serta membuka handuk sambil mencari bibiku takut ketahuan, kepala bibiku tampak tetap ada dibelakang batu
besar disamping sungai itu lagi asik membuang hajat..
“Berani cium gak 5 Ribu deh… “ dibukanya kembali handuknya sambil tersenyum menantang, memeknya tampak begitu
menggairkan
“Gak ah aroma tuh.. tambah deh 10 “ kataku cengengesan
“Deal…” Katanya sambil duduk jongok Mukaku kumajukan untuk bisa mencium memeknya, pelan-pelan kubuka bibirnya serta ku elus elus seluruh memeknya sambil pura-pura menutup hidung semacam mau minum jamu. Kemudian ku buka mulut serta mulai mengeluarkan lidah, wulan nampak menonton kesekeliling kemudian aku mulai menjilat dengan pelan ke paha kanan kemudian kiri serta akhirnya menjilati memeknya ia tampak mengerang geli,
“Ih…” katanya pelan, lidahku yang tetap menempel kemudian kumasukkan kedalam memeknya serta menggerak gerakkan memutar jadi ia tambah geli. Seusai tidak lebih lebih 5 detik ku tarik mukaku
“Memek lo aroma juga ya… mana 10 ribunya..?” ia menutupi kembali memeknya dengan handuk serta berdiri
“Ntar ya dirumah, mang aku bawa dompet apa? daa…” sumpret belum puas ngotak-atik mesin bmw (bulu memek wanita) ia telah pergi, yah akhirnya aku hanya bisa kembali swalayan sambil menonton ia berlalu,

bibiku akhirnya menyelesaikan BAB nya aku tetap berendam bermain main di sungai sambil mengembalikan tenaga seusai swalayan. Kami kemudian asyik mencuci sambil ngobrol seru-seruan, bibi mencuci sedang aku membilasnya, sesekali kami saling menyiramkan air jadi baju kami basah semua akhirnya baju yang kami berakhir semua aku mulai membuka semua bajuku jadi hanya menyisakan celana kolorku saja, sementara bibiku yang dari tadi berhadapan denganku menggeser duduknya menyamping, kemudian menaikkan dasternya kemudian celana dalam putih pelan pelan turun dari pahanya mulus bibiku kemudian dirinya menghadap kembali padaku dengan posisi kaki lebih rapat, tidak semacam tadi dimana kadang aku bisa menonton celana dalamnya.
“Ih celana dalamnya dah pada bolong nih…” kuangkat celana dalamnya, bibiku segera menyambarnya
“Mana? Tetap baru nih..” katanya sambil melemparkannya kepadaku. Dirinya kemudian menurunkan dasternya serta mencopot kutang dari tempatnya serta kemudian menaikkan kembali dasternya, tanpa segaja dirinya membuka kakinya jadi bulu bulu tipis samar-samar terkesan diantara pahanya terkesan jelas didepanku, dirinya menunduk mencuci bhnya jadi teteknya menyembul diantara belahan dasternya,
“Sini kolormu dicuci sekalian…” aku bengong mendengarnya,
“Copot sekalian gih kolormu.. “
“Wah gak bawa celana dalam bi….” Bibiku tidak menjawab serta memegang kolorku, akhirnya aku berdiri serta membuka
pelan-pelan kolorku jadi adikku menampakkan diri.

“Lho dah sunat to kalian ?” dilihatnya burungku yang tetap imut-imut plus rambut yang baru pada keluar, ku pegang
burungku sambil melirik kaki bibi yang sedikit terbuka.
“Dah lama ya kami gak mandi bareng…” ia tersenyum
“Ia dulu waktu tetap SD kalian hanya mau mandi bareng aku mang kenapa sih ?”
“Ya milih yang cantik donk, masak sama mak ijah kan dah pada keriput semua,…” ia kemudian membuka dasternya
sehingga seluruh tubuhnya terbuka serta menggeser duduknya menyamping.
“Sana taruh di pinggir “
aku kemudian meletakkan cucian kemudian kembali ke tempatnya. Teteknya yang bersih serta putih mesikipun tidak sebesar punya wulan terkesan tetap sama semacam dulu, tubuhnya yang putih sintal serta rambut yang tergerai membikin semua orang pasti mengakui dirinya wanita ayu.

“Ssst lihat memeknya donk bi…” ia melengos serta menutupi pangkal pahanya dengan tangan, aku hebat tangannya terkesan rambut-rambut tipis berada di tengah
“Hiii… bulunya habis dicukur ya…” ia tersenyum geli, ia kemudian menggeser duduknya sehinga cocok didepanku
“Kok tahu…. keren kan” dibelai nya rambut pubis itu bangga
“Ya tahu lah… dulu kan lebih tebal dari ini….mang napa dicukur”
“Nggak lagi pingin aja … kalo mau dateng bulan aku biasa potong, kalo gak tidak cabut pake lilin, kalo rapi kan sehat….”
Kakinya yang rapat membikin aku hanya kebagian menonton rambutnya saja.

“Lihatin donk….” Kataku sambil mengelus elus pahanya tangannya menghela tanganku dari pahanya tapi kemudian aku kembali mengelusnya seusai itu dirinya menonton tajam kepadaku, pelan-pelan tanganku sukses menggeser satu kakinya jadi memeknya sedikit terkesan.
“Wah tetap sama kaya dulu ya.. mesikipun dah punya anak tetap terkesan kenceng punyamu” ia tersenyum mendengar
bualanku serta membiarkan aku menonton seluruh isi memeknya, tanganku mulai membelai memeknya pelan kemudian
mengusap-usapnya
“Jangan nakal ah.. geli..” aku tetap saja mengelus elusnya
“Mandi sana.” Tangannya mendorong mukaku jadi aku terjatuh, dirinya kemudian berlangsung kearah air yang lebih dalam kemudian berenang renang kecil
“Ri ambilin sabun donk…” aku duduk mendekatinya serta mengacungkan sabun, ditariknya tanganku jadi aku jatuh
dia tersenyum aku kemudian membalas dengan menyiramkan air kemukanya seusai berbagai saat bercanda di dalam air ia kemudian naik ke suatu  batu untuk membersihkan diri dengan sabun. Dengan menghadap kepadaku ia mulai
meletakkan sabunnya dileher jenjangnya, pelan pelan turun ke teteknya, kemudian ke tangan serta kakinya serta berahir
pada memeknya seusai itu dirinya kemudian menggosok badannya untuk mempertidak sedikit busa. Aku keluar dari air serta duduk di sampingnya dirinya langsung menggosokkan sabun keseluruh tubuhku dari muka hingga ke kaki, dengan santai ia
menggosokkan sabun pada penisku.

“Dah gede kalian ri, burungmu dah ada rambutnya..”
“Ya donk masak mau kecil terus…” ia kemudian membalikkan badannya serta berdiri sambil memintaku menggosok punggung serta bokongnya yang belum kena sabun, waktu mengosok bokongnya pelan-pelan tanganku ku senggolkan ke memeknya nampaknya dirinya cuek saja dengan terus asik menggosok tubuhnya dengan sabun, aku mulai memberanikan diri
mengelus dari belakang kedua payudaranya. Ia membalikkan badan, membiarkan aku mengelus elus payudaranya serta
seluruh tubuhnya sementara dirinya mengelus kakiku serta sesekali mengelus penisku.

Ia kemudian terduduk, semacam biasanya kalo mandi dirinya rutin terdiam berbagai saat membiarkan sabun meresap ditubuhnya. Aku yang tetap berdiri didepannya dengan penis cocok di mukanya, ia kemudian memain-mainkan penis itu,
”Di bersihin donk ri burungnya, nih tetap ada kotorannya” katanya sambil mengelus penisku mesra aku hanya diam keenakan. Kemudian dirinya berbaring di atas batu, aku duduk disamping kakinya sambil mengelus memeknya serta menyiramkan air jadi seluruh memeknya kelihatan.

“Dah jangan main itu terus ah geli …” ia tersenyum menutupkan kakinya aku kemudian hebat kakinya jadi saat ini tubuhku berada diantara kakinya. tanganku mulai menggosok-gosok lagi hari ini jariku mulai masuk ke memeknya, dirinya bangun
“Geli ah li.. “tanganku hari ini sukses diusirnya, tanpa sadar dirinya mulai menonton burungku yang mulai berkembang serta
menggantung
“Burungmu dah mulai bisa berdiri ri…” dielusnya burungku pelan mesra, terus lama burungku makin besar sebab tidak tahan bakal elusannya.

“Kamu dah sempat ngimpi basah ya.. “ aku mengangguk kemudian
“ Bi.. kalian gak lagi mens kan?” ia tersenyum kemudian mengajar tanganku pada dadanya
“Sini bibi ajarin ngelonin cewek…” aku mengikuti saja bimbingan tangannya mengelus pelan teteknya kemudian melintir
putingnya
“yang mesra donk ri anggep aja aku cewekmu “ dirinya kemudian mencium pipiku serta mendorong mukaku ke teteknya,
aku ciumi semua tahap teteknya kemudian menghisap pelan putingnya, ada air keluar dari susunya aku makin keras
menyedotnya sementara bibi mengusap kepalaku sambil merem menikmatinya. Kemudian aku menjilati perut serta turun ke rambut memeknya, ke paha kemudian menengelamkan mukaku ke memeknya, tetapi tangan bibiku mencegahnya
“Kamu gak papa ri?” katanya pelan “Gak papa bi, sekalian buat pengalaman“
ia kemudian menyiramkan air ke memeknya seusai itu kucium serta kujilati memeknya berbagai saat, sementara tanganku dibimbing untuk tetap mengelus dadanya. dirinya rupanya terangsang dengan jilatanku, erangan-erangan kecil
dan tekanan tangannya pada rambutku mengisyaratkan dirinya telah mulai terangsang. Merasa lumayan ku hentikan jilatanku
kemudian duduk di depannya dirinya kemudian melek sambil mengelus serta memutar mutan burungku
“Enak kan…?” ucapnya manja, aku kemudian berdiri, penisku cocok berada di mukanya, berbagai saat dirinya diam kemudian ia menutup mata serta mencium penisku
“Kalo jijik gak usah di emut …” ia melepaskan mukanya serta kembali mengocok dengan tangannya.
Ia kemudian duduk diatas batu sambil mengangkan meminta aku memasukkan penis ke memeknya
“ Di gesek aja ya, jangan dimasukkan.. punya pamanmu nih..” aku kemudian menggesekkan penis ke memeknya sementara tanganku menggoda teteknya.

“Bi sekalian masukkin ya.. biar ngajarinnya komplit..” ku masukkan tanganku ke memeknya,
“Jangan sama pacarmu saja, kasihan perjakamu…” aku kemudian mencoba memasukkannya pada memeknya dua kali mencoba nyatanya penisku belum bisa tembus juga, bibiku tersenyum geli
“Tuh kan gak bisa, sini…” ditariknya penisku, di elus kemudian dimasukkan dalam memeknya, rasanya sempit sekali memeknya, baru setengah penis masuk bibiku mengeluarkan kembali
“Sulit kan… makanya pelan pelan” ia kembali memasukkan, hari ini lebih dalam, ia kembali hebat tubuhnya sehingga
penisku lepas. Tanganya lepas dari penisku, tanganku yang mau mengarahkan penisku di tariknya menandakan dirinya pingin aku memasukkan tanpa bantuan.

Dua kali mencoba tidak sukses lagi akhirnya bibiku yang memajukan memeknya, sekali maju langsung masuk,
“uh…. Enak bi …” ia kemudian menggoyang pinggulnya memberbagi tekanan keluar masuk pada penisku, aku merem melek menahan enak sambil menolongnya mengelus tubuhnya,
“Ayo tahapmu…” ia kemudian pasif membiarkan aku meperbuat keinginanku ku. Aku masukkan hingga semua penisku masuk kemudian bergerak pelan terus lama terus cepat menggoyang maju mundur.

“Keren ri.. ayo.. ah…. ah… terus sayang….” aku menurutinya berbagai saat dirinya meminta aku mengganti posisi saat ini dirinya menungging di depanku dengan sigap kumasukkan penisku berulang ulang
‘oh yes … enak bi… enak….” Lima menit kemudian ia memintaku duduk dirinya berdiri dihadapanku memeknya kuciumi
sebentar kemudian dirinya menduduki kakiku,
“ayo aku dah mau nyampe… kalian mau nemenin kan…” dirinya kemudian memasukkan memeknya serta bergerak turun naik sementara muka serta tanganku memegang teteknya
“bii…. Jangan cepet-cepet aku gak kuat nanti…”
“Ayo sayang … bibi juga gak lama lagi ..” aku melepas tangan dari susunya serta berkonsentrasi menahan goyangan maut memek bibiku..

“uh.. ah… “ bergantian kami mengucapkannya
“Stop bi… aku mau keluar …” aliran-aliran listips seakan menjalar ditubuhku.. bibi melepaskan memeknya, kemudian mengocok penisku dalam hitungan ke lima air maniku benar benar keluar “crot,,,,” mengarah pada tubuhnya.. Aku lemas sambil menyedot tetek bibiku aku mengatur nafas seusai sukses mencapai puncak
“Wiih enak banget bi…. Yes……” kataku pelan, ia tersenyum serta mencium pipiku sambil mengelus-elus teteknya, seusai berbagai istirahat bibiku menuangkan air ke mukaku
“udah mandi yuk…” aku hebat tangannya
“Makasih ya bi… maaf kebablasan” ia tersenyum
“Ayo tidak bantu nyampe puncak..” kataku sambil mengelus memeknya, aku kemudian mencium tetek kemudian memeknya, aku kemudian memasukkan jariku pada memeknya ia merem melek kemudian aku memasukkan berkali-kali serta menggelitik memeknya, ia sangatlah terangsang. Tangannya memegang penisku yang telah tidak kencang lagi kemudian mengarahkan mukanya pada penisku, terus lama goyangan tangan ku makin kencang, hingga akhirnya bibiku mengerang ngerang kemudian memasukkan penis pada mulutnya.. ia menggelinjang serta ahirnya dirinya berteriah “uhhhhhhh,,,,,,” dilepaskannya penisku serta berguling di batu itu, ku belai rambutnya menemani menuruni puncak kenikmatan.

Kemudian kami berdua masuk kembali ke air membersihkan sisa sabun
“ Jangan diulang ya… sekali aja “ katanya sambil mencubit paha depanku
“Ya deh bi,, kalo kuat ya.. tapi kalo lihat tubuh bahenol ini kayaknya aku gak tahan” kucium tengkuk bibi sambil mengelusnya, dirinya membalas
“Janji ya, jangan goda aku lagi…” aku diam sambil memeluknya..

Musim Bokep : Menjadi Teman Masturbasi


Aku memasuki kamarku dan langsung kukunci dari dalam, kulepas T Shirt tanpa lengan yang kupakai dan kulemparkan begitu saja di tempat tidur. Payudaraku yang ranum berwarna sedikit merah muda di puting dan sekitarnya tampak menggairahkan. Aku memang sejak kecil tidak suka memakai bra hingga kini aku jadi tidak memiliki BH barang satupun, hingga begitu T Shirt kutanggalkan maka payudaraku pun langsung mencuat, ukurannya memang sedang-sedang saja namun bentuknya padat dan menggairahkan hingga dapat membuat setiap lelaki menelan ludah bila memandangnya, apa lagi ditunjang postur tubuhku yang sexy dengan tinggi 170 centimeter, yang cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita.

Kuperosotkan dan kulepas hot pantsku yang mini model longgar di bagian bawah, hingga tampak jelas CD model G String warna merah yang saat ini kupakai. Bentuknya sangat mini dengan seutas tali nylon yang melilit di pinggangku dan ada ikatan di kiri dan kanan pinggangku yang ramping. Bulu-bulu halus kemaluanku tampak menyibak keluar dari sela sela secarik kain model segi tiga kecil yang tipis ukurannya, tidak lebih dari ukuran dua jari hanya mampu menutupi lubang vaginaku. Bentuk G String yang kupakai memang sangat sexy dan aku sangat suka memakainya, ditambah seutas tali nylon yang melingkar melewati selangkanganku tepat mengikuti belahan pantatku ke atas bagian belakang dan tersambung dengan tali nylon yang melingkar di pinggangku.

Dengan sekali tarik ikatan di kanan kiri pinggangku, maka tak sehelai benang pun kini menutupi tubuhku, CD kubiarkan tergeletak di lantai. Sambil telanjang bulat aku berjalan menuju lemari mengambil sebuah celana pendek mini yang longgar di bagian bawahnya yang terbuat dari bahan sutera tipis tembus pandang dan ada celah di bagian kiri dan kanannya dan tanpa kancing, hanya menggunakan karet elastis saja. Segera kukenakan sambil menyalakan komputer dan mengakses internet. Celana ini memang enak sekali dipakai di rumah saat tidur, dan aku biasa tidur dalam keadaan seperti ini, tanpa busana lainnya menutupi tubuhku, hanya ada celana pendek seperti yang kukenakan saat ini. Namun tak jarang juga aku tidur tanpa berbusana sama sekali dan langsung menyusup ke dalam selimut.

Seperti biasa, email yang masuk ke mail box-ku sangat banyak. Kubuka satu persatu, bagi pengirim yang belum pernah mengirim email kepadaku langsung kujawab emailnya dan kucantumkan persyaratanku bila ingin berkenalan dan mengobrol lebih lanjut denganku, sedangkan bagi yang sudah pernah kujawab emailnya namun tidak memenuhi persyaratanku tetapi tetap ngotot berkirim email ingin berkenalan lebih lanjut dan ber email ria, langsung saja kuhapus emailnya dengan tanpa memberikan reply. Demikian pula bagi yang mengirimkan pesan dengan menggunakan nomor HP-nya melalui SMS langsung saja kuhapus tanpa perlu membukanya terlebih dahulu. Aku malas membukanya karena membuang-buang waktu dan biaya, toh aku juga tidak bisa membalas pesannya kecuali dengan juga menggunakan SMS, untuk apa aku harus bersusah payah membuang-buang pulsa segala, pikirku.

Setelah selesai membuka dan membalas semua email yang masuk, kuputus akses dengan internet, namun komputerku tetap kunyalakan karena rencananya nanti selesai mandi aku akan mengaksesnya lagi, karena biasanya akan banyak lagi email yang masuk.
Kulepas celana yang kupakai dan aku memasuki kamar mandi yang ada dalam kamarku. Kunyalakan air hangat mengisi bathtub kamar mandiku. Sore ini aku ingin berendam sejenak sambil menghilangkan pegal-pegal yang ada di tubuhku. Kutorehkan bath foam secukupnya dalam air hingga berbusa. Saat aku menunggu penuhnya air, tiba-tiba handphoneku berbunyi.
Kalau kudengar dari deringnya, aku yakin ini datangnya dari salah seorang pembacaku, karena memang bagi pembaca yang sudah memenuhi persyaratanku, nomor handphonenya segera kumasukkan memory dan kukumpulkan dalam satu nada dering khusus. Kuambil hand phoneku yang tergolek di atas meja computer, dari layarnya tampil namanya Amin (nama samaran).
“Yaa..! Halloo..!”, sapaku setelah menekan tombol Yes.
“Hallo..! Hai Lia..! Apa kabar..? Lagi ngapain nich?”, sahut Amin dari seberang.

“Aku sedang mau mandi nich! Emangnya kenapa dan ada apa menelepon? Entar aja deh kamu telepon aku lagi ya, aku sudah telanjang bulat nich, sudah siap-siap mau berendam”, belum selesai aku berkata, Amin langsung memotong pembicaraanku..
“Eee.. Eeh! Tunggu dulu dong! Biar saja kamu berendam sambil tetap ngobrol denganku”, pinta Amin.
“Baiklah”, jawabku menyetujui sambil meraih hands free kemudian aku masuk kembali ke kamar mandi.
Hand phone kuletakkan di meja wastafel dan kabel hands free menjulur ke arah telingaku, aku pun akhirnya berendam sambil mengobrol dengan Amin menggunakan hands free.
“Lia! Aku sekarang juga berjalan ke kamar mandi, sekarang di kamar mandi aku melepaskan celana dan CD-ku, kondisiku sekarang juga sudah bugil nich!”, Amin mencoba menjelaskan keadaannya saat itu padaku.
“Emangnya gue pikirin, lagian ngapain kamu ikutan bugil di sana?”, ujarku.

“Lia! Aku ingin melakukan onani sambil ngobrol denganmu, kamu tidak keberatan kan? Please! Sekarang peniskusudah selesai kubasahi dan kuoles dengan shampoo, sekarang mulai kuusap-usap sambil mengocok-ngocoknya, kamu juga cerita dong apa yang kamu kerjakan saat ini sambil memberiku rangsangan”, pinta Amin lagi dengan memelas.
Mendengar penuturan Amin tadi, terus terang aku sempat membayangkan sejenak dan sedikit mulai terangsang hingga tanpa kusadari aku juga sudah mulai meremas-remas payudaraku. Karena aku memakai hands free, maka aku tetap masih bisa mengobrol dengan kedua tanganku tetap bebas bisa beraktifitas. Kuceritakan pada Amin kalau saat ini aku sedang meremas-remas kedua payudaraku yang juga sudah mulai mengeras, puting susuku mendongak ke atas dan mulai kujilati sendiri bergantian kiri kanan, aku merasakan ada aliran yang mengalir keluar dari liang senggamaku, pertanda aku sudah mengalami rangsangan hebat.

Sementara tangan kiriku tetap meremas-remas payudaraku, tangan kananku mulai turun ke bawah meraba dadaku, mengelus-elus sendiri pusarku, ke bawah lagi ke arah vaginaku sambil mengangkat kedua buah kakiku dan meletakkannya ke samping bathtub hingga posisiku sekarang terkangkang lebar hingga memudahkan tangan kananku mengelus bagian luar vaginaku yang sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu halus. Jari-jariku turun sedikit mengusap-usap bibir vaginaku sambil menggesek-gesekkan klitorisku. Aku mulai melenguh menikmati fantasiku, gesekannya kubuat seirama mungkin sesuai dengan keinginanku. Tiba-tiba kudengar suara teriakan Amin dari seberang sana..

“Ooo.. Oocch! Liaa..! Aku orgasme nich!”, suaranya makin lirih, rupanya di seberang sana Amin sudah berhasil mencapai puncaknya, gila! Dia sepertinya sangat menikmati penuturanku melalui telepon sambil terus melakukan aktifitasnya sendiri, mendengar suara itu aku menjadi semakin terangsang saja jadinya, jari tengah dan jari manis tangan kananku mulai kumasukkan ke dalam liang vaginaku yang sudah semakin berlendir, sementara jari telunjuk kupakai menggesek-gesek klitorisku. Rasanya benar-benar membuat darahku mengalir ke atas kepalaku. Pertama agak sulit masuk, namun lama-lama setelah melalui beberapa kali gesekan, bibir vaginaku pun semakin merekah sehingga memudahkan jari-jariku masuk menembus liang vaginaku.

Kumainkan jari-jariku di dalam vagina, kuputar-putar di dalam hingga menyentuh dinding-dinding bagian dalam vaginaku, rasanya tidak kalah dengan batang kemaluan yang pernah masuk dan bersarang dalam liang vaginaku, bahkan lebih hidup rasanya karena bisa kukontrol sesuai dengan keinginanku. Kugaruk-garukkan lembut pada dinding dalam vaginaku, ada kalanya kusentuhkan pada tonjolan sebesar ibu jari yang ada dan tersembul di dalam vaginaku, nikmat sekali rasanya.

Aku juga sepertinya akan segera mencapai puncak kenikmatan. Sekarang tiga jariku yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kananku kumasukkan seluruhnya ke dalam liang vaginaku, kutarik keluar masuk, kukocok-kocokkan makin cepat, sementara tangan kiriku juga mulai ikut aktif membantu, jari manis dan jari telunjuk tangan kiri kupakai menyibakkan bibir vaginaku, sementara jari tengahnya mengorek-ngorek klitorisku. Kocokan jari-jari tangan kananku semakin cepat. Aku terus melenguh.
“Ooh.. Oocch! Aa.. Aacch!”, badanku berguncang keras sehingga air dalam bathtub banyak yang tumpah keluar membasahi lantai kamar mandiku.

Badanku menggigil hebat, sekali lagi aku melenguh panjang, dan aku pun mencapai orgasme. Badanku kini lemas tersandar di punggung bathtub. Dari seberang sana kudengar suara Amin menanyakanku..
“Gimana Lia, enak enggak?”, Setan.., umpatku dalam hati, masa masih ditanya enak atau enggak?
“Lia..! Aku sekarang ke rumahmu ya? Kau kujemput dan kita check in terus melakukan hal yang sesungguhnya yuk”, ajak Amin.
Aku menolak dengan halus ajakan Amin. Setelah berbincang sejenak aku pamit untuk mematikan telepon dengan alasan akan melakukan sesuatu. Akhirnya dengan berat hati Amin pun bersedia mematikan teleponnya, entah berapa banyak pulsa sudah yang dia habiskan untuk melakukan sex by phone denganku sambil beronani.

Terus terang saja walau sudah agak sering kontak dengan Amin dan kami juga sudah dua kali bertatap muka, aku sedikit pun tidak berminat berhubungan badan dengannya. Tingginya sekitar 165 centimeter, lebih pendek sedikit dariku, badannya agak sedikit gendut, usianya 32 tahun, sudah beristri dan beranak tiga. Wajahnya menurut ukuranku juga tidak ganteng, jadi biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa bagiku. Aku memang juga membutuhkan sarana menyalurkan libidoku namun tidak berarti aku bisa melakukannya dengan siapa saja.

Dalam permainan sex, aku benar-benar ingin menikmatinya, maka aku juga harus memilih pasangan yang benar-benar bisa menaikkan gairahku. Sudah berkali-kali Amin mengajakku make love (ML) tapi selalu kutolak dengan seribu satu macam alasan, namun aku tetap tidak mengutarakan alasan penolakanku, karena aku yakin dia akan langsung merasa malu dan tersinggung. Maka lewat tulisanku ini, buat seorang pembaca yang kuberi nama samaran Amin, aku mohon maaf dan aku harap kamu juga membaca tulisanku ini dan dapat mengerti.

Musim Bokep : Darah Perawan


Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada.
“Winda…”, suatu  suara terbuktigil.
“Hei Ratna!”.
“Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?”, Ratna itu bertanya heran.
“Tau nih, aku mau minta ujian susulan, telah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?”.
“Idih jahat banget!”.
“Makanya, aku takut kelak di raport merah, mata kuliah dirinya kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!”.
“He-eh deh, hingga nanti!” Ratna berlalu. Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu.
“Masuk…!”, Suatu  suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.
“Selamat siang pak!”.
“Selamat siang, kalian siapa?”, tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
“Saya Winda…!”.
“Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?”.
“Iya benar pak.”
“Saya tidak ada waktu, kelak hari Mminggu saja kalian datang ke rumah saya, ini kartu nama saya”, Katanya acuh tidak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.
“Ada lagi?” tanya dosen itu.
“Tidak pak, selamat siang!”
“Selamat siang!”.

Dengan lemas aku beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, telah belajar hingga larut malam, hingga di sini wajib kembali lagi hari Minggu, huh!
Mungkin hanya akulah yang hari Minggu tetap berlangsung sambil mengangkat tas hendak kuliah. Hari ini aku wajib memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.
Rumah Pak Hr terletak di suatu  perumahan elite, di atas suatu  bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu telah terbuka, Seraut wajah yang telah mulai tua tetapi tetap segar muncul.
“Ehh…! Winda, ayo masuk!”, sapa orang itu yang tidak lain adalah pak Hr sendiri.
“Permisi pak! Bunda mana?”, tanyaku berbasa-basi.
“Ibu sedang berangkat dengan anak-anak ke rumah neneknya!”, sahut pak Hr ramah.
“Sebentar ya…”, katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.
Tumben tidak sepeti biasanya ketika membimbing di kelas, dosen ini populer paling killer.
Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di aspek ruangan tersedia seperangkat lemari kaca temapat tersimpan beberapa barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu.
“Gimana telah siap?”, tanya pak Hr mengejutkan aku dari lamunannya.

“Eh telah pak!”
“Sebetulnya…, sebetulnya Winda tidak butuh mengikuti ulang susulan kalau…, kalau…!”
“Kalau apa pak?”, aku bertanya tidak mengerti. Belum habis bicaranya, Pak Hr telah menukurang baik tubuhku.
“Pak…, apa-apaan ini?”, tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.
“Jangan berpura-pura Winda sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan kualitas bukan, kau bakal kululuskan asalkan mau melayani aku!”, sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.
Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik…, tetapi detah dari mana sumbernya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku. Wajib kuakui terbukti, mesikipun dirinya lebih layak jadi bapakku, tetapi sebetulnya lelaki tua ini tidak jarang membikinku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr.
“Lepaskan…, Pak jangan hhmmpppff…!”, kata-kataku tidak terberakhirkan sebab terburu bibirku tersumbat mulut pak Hr.

Aku meronta dan sukses melepaskan diri. Aku bangkit dan berlari menghindar. Tetapi entah mengapa aku justru berlari masuk ke suatu  kamar tidur. Kurapatkan tubuhku di aspek ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.
Pak Hr seperti diberi peluang emas. Ia berlangsung memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar luar biasa manakala lelaki tua itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. Dengan sekali tarik aku jatuh ke pelukan Pak Hr, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki tua itu. Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang terus kuat hingga akhirnya akupun merasa telah kepalang basah, hati kecilku juga mengharapkannya. Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui seperti itu oleh Aldy, entah sedang di mana dirinya sekarang. aku tidak menolak lagi. bahkan saat ini malah membalas dengan hangat.

Merasa mendapat angin saat ini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang aku pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang aku pakai.
Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas. Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang nakal mepermainkan puting susuku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin kasar bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.
Seusai puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang aku pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga akhirnya aku hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya. Di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi.

Tak terasa aku menjerit ngeri, aku belum sempat melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa ambrol milikku dimasuki benda itu. Tetapi aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu. Pak Hr berlangsung mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan luar biasanya hingga ikatannya lepas dan rambutku leluasa tergerai hingga ke punggung.
“Kau Cantik sekali Winda…”, gumam pak Hr mengagumi kecantikanku.
Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar pujian itu.
Dengan lembut Pak Hr mendorong tubuhku hingga terduduk di pinggir kasur. Lalu ia luar biasa G-string, kain terbaru yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai. Saat ini kami berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Matanya sangatlah nanar memandang daerah di kurang lebih selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu.

Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di kurang lebih kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu. Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh menikmatinya, hingga-sampai tubuhku dibangun menggelinjang-gelinjang kegelian.
“Pak…!”, rintihku memelas.
“Pak…, aku tidak tahan lagi…!”, aku memelas sambil menggigit bibir. Sungguh aku tidak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr. Tetapi rupanya lelaki tua itu tidak peduli, bahkan bahagia melihat aku dalam keadaan demikian. Ini terkesan dari gerakan tangannya yang saat ini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi lakukanannya. Padahal aku telah kewalahan dan telah sangat basah kuyup.

“Paakk…, aakkhh…!”, aku mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Hr melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Hr keras-keras. Saat ini aku tidak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku. aku yakin dengan nafsunya yang sebesar itu dirinya pasti sangat berpengalaman dalam faktor ini, bahkan sangat mungkin telah puluhan alias ratusan mahasiswi yang telah digaulinya. Tapi apa peduliku?
Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang tetap terduduk di tepi ranjang dengan tahap bawah perutnya persis berada di depan wajahku. aku telah tahu apa yang dirinya mau, tetapi tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.

Tanpa melawan sama sekali aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Hr ke dalam mulutku hingga membikin lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk tahap kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku. Itupun telah terasa penuh. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum dan mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu bergetar luar biasa setiap kali lidahku menyapu kepalanya.

Beberapa hari kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia menggeletakkan aku di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang terbukti telah sangat basah. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.

Dan ketika dengan kasar dirinya tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya hanyut ke dalam diriku aku tidak kuasa menahan diri untuk tidak mem*kik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.
Pak Hr lumayan mengerti keadaan diriku, ketika dirinya berakhir masuk seluruhnya dirinya memberi peluang padaku untuk menguasai diri beberapa hari. Sebelum kemudian dirinya mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.

Aku sungguh tidak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membikinku lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi aku dengan tutorial itu. Sementara bibirnya tidak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya rutin meremas-remas payudaraku. Aku bisa merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.
Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku rutin menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak bisa menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin membikin Pak Hr tergila-gila.

Tidak hingga di situ, beberapa menit kemudian Pak Hr membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu saat ini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara aku yang saat ini menggantung berat ke bawah. Sebagai seorang wanita aku mempunyai daya tahan alamiah dalam bersetubuh. Tapi bahkan saat ini aku kewalahan menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu sangatlah luar biasa tenaganya. Telah hampir setengah jam ia bersi kukuh. Aku yang saat ini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.

Kupacu terus goyangan pinggulku, sebab aku merasa sebentar lagi aku bakal memperolehnya. Terus…, terus…, aku tidak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang-kadang mem*kik menahan rasa luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu hingga, aku tidak peduli lagi…, aku mem*kik keras sambil menjambak rambutnya. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhku mengejang. Sungguh luar biasa rasa yang kurasakan hari ini. Sungguh ironi terbukti, aku memperoleh kenikmatan seperti ini bukan dengan orang yang aku sukai. Tapi masa bodohlah.

Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. Pak Hr kemudian kembali mengambil inisiatif. saat ini gantian Pak Hr yang menindihi tubuhku. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun terus cepat dan kasar. Peluhnya telah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh luar biasa laki-laki ini. Mesikipun telah berusia tapi tetap bersi kukuh segitu lama. Bahkan mengalahkan semua cowok-cowok yang sempat tidur denganku, mesikipun mereka rata-rata sebaya denganku.

Tetapi beberapa hari kemudian, Pak Hr mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki tua itu bergetar luar biasa di atas tubuhku. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya.
Beberapa hari kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu. Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yang telah tercerai berai.

Aku sendiri terpejam sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja aku alamiah di sekujur tubuhku ini. Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik.
Bagian bawah tubuhku itu terasa sangatlah banjir, basah kuyub. Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.

“Bukan main Winda, nyatanya kau pun seperti kuda liar!” kata Pak Hr penuh kepuasan. Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. aku sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat. Persetan dengan tubuhku yang tetap telanjang bulat.
Pak Hr kemudian bangkit berdiri, ia menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki tua itu mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aku pun dengan malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
Sambil berpakaian ia bertanya, “Bagaimana dengan ujian saya pak?”.
“Minggu depan kalian bisa mengambil hasilnya”, sahut laki-laki itu pendek.
“Kenapa tidak besok pagi saja?”, protes aku tidak puas.
“Aku tetap ingin berjumpa kamu, selagi seminggu ini aku minta supaya kau tidak tidur dengan lelaki lain kecuali aku!”, jawab Pak Hr.

Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera bisa menguasai kondisiku. Rupanya dirinya belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.
“Aku tidak bisa janji!”, sahutku seenaknya sambil bangkit berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi. Pak Hr hanya sanggup terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.
Aku sedang berlangsung santai meninggalkan rumah pak Hr, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki itu demi menebus kualitas ujianku yang rutin jeblok apabila ujian dengan dia. Mungkin malah sengaja dibangun jeblok biar dirinya bisa main denganku. Dasar…, tetapi wajib kuakui, dirinya laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa apabila dibandingkan dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini dirinya tetap sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu aku datang, dan dua kali di kamar tidur. Aku sempat terlelap setelahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang. Berutung hari ini, aku bisa memaksanya menandatangani arsip ujian susulanku.
“Masih ada mata kuliah Pengangkut Berorganisasi dan Kepemimpinan”, katanya sambil membubuhkan kualitas A di arsip ujianku.

“Selama bapak tetap bisa memberiku kualitas A”, kataku pendek.
“Segeralah mendaftar, kuliah bakal dimulai minggu depan!”.
“Terima kasih pak!” kataku sambil tidak lupa memberbagi senyum semanis mungkin.
“Winda!” teriakan seseorang mengejutkan lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber suara tadi yang aku perkirakan berasal dari dalam mobil yang berlangsung perlahan menghampiriku. Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah yang sangat aku benci timbul dari balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terbaru itu.
“Masuklah Winda…”.
“Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!”, Aku tetap mencoba menolak dengan halus.
“Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan pak Hr saja kau mau!”.
Aku tertegun sesaat, Bagaikan disambar petir di siang bolong.
“Da…,Darimana kau tahu?”.
“Nah, jadi benar kan…, padahal aku tadi hanya menduga-duga!”
“Sialan!”, Aku mengumpat di dalam hati, wajibnya tadi aku bersikap lebih tenang, aku terbukti rutin nervous kalau ketemu cowok satu ini, rasanya ingin buru-buru berangkat dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang terbukti seram itu.

Seperti tipikal orang Indonesia tahap daerah paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak sempat dirapikan dengan rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak sempat dikancingkan dengan benar jadi memamerkan dadanya yang penuh bulu. Dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian…, lumayan menunjukkan bahwa dirinya ini orang yang terbukti punya duit. Tetapi, aku menjadi muak dengan penampilan seperti itu.

Dino terbukti salah satu jawara di kampus, anak buahnya tidak sedikit dan dengan kekuatan uang dan gaya jawara seperti itu membikin dirinya menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus. Dirinya itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak sempat lulus, tetapi tidak ada orang yang berani mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.
“Gimana? Tetap tidak mau masuk?”, tanya dirinya setengah mendesak.

Aku tertegun sesaat, belum mau masuk. Aku terbukti sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi kelihatannya aku tidak punya opsi lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kulakukan dengan pak Hr, dan aku sungguh-sungguh ingin menjaga rahasia ini, khususnya terhadap Erwin, tunanganku. Tetapi saat ini aku benar benar terdesak dan ingin segera membiarkan persoalan ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja ajakannya.
Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berkata dengan orang yang berada di sebelahnya supaya berpindah ke jok belakang. Aku membanting pantatku ke kursi mobil depan, dan pemuda itu langsung menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kebahagiaan.
“Ke mana kita?”, tanyaku hambar.
“Lho? Mestinya aku yang wajib tanya, kau mau ke mana?”, tanya Dino pura-pura heran.

“Telahlah Dino, tidak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?”, Suaraku telah sedemikian pasrahnya. Aku telah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta dirinya menutup-nutupi lakukananku. Orang yang duduk di belakangku tertawa.
“Rupanya dirinya lumayan mengerti apa kemauanmu Dino!”, Dirinya berkomentar.
“Ah, diam kau Maki!” Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir mirip dengan Dino kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.
“Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Winda!”, pancing Dino.
“Sesukamulah…!”, Aku tahu benar terbukti itu yang diharapkannya.
Dino tertawa penuh kemenangan.

Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah suatu  rumit perumahan. Lalu mobil yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan suatu  rumah yang lumayan besar. Di pekarangan itu telah ada 2 buah mobil lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla tetapi keduanya kelihatan diparkir sekenanya tidak beraturan.
Interior depan rumah itu sederhana saja. Cuma satu stel sofa, suatu  rak perabotan pecah belah. Tidak lebih. Dindingnya polos. Demikian juga tempok ruang tengah. Terasa alangkah luas dan kosongnya ruangan tengah itu, walau suatu  bar dengan rak minuman berbagai macam tersedia di aspek ruangan, menghadap ke taman samping. Suatu  stereo set terpasang di ujung bar. Tampaknya baru saja dimatikan dengan tergesa-gesa. Pitanya sebagian tergantung keluar.

Dari pintu samping kemudian timbul empat orang pemuda dan seorang gadis, yang jelas-jelas tetap memakai seragam SMU. Mereka semua mengeluarkan suara setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan Dino alias sebangsanya, sedangkan yang satu lagi seperti bule dengan rambutnya yang gondrong. Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan panjang tergerai hingga ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi dahinya. Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia keturunan Cina alias sebangsanya. Wajib kuakui dirinya terbukti cantik, seperti artis drama Mandarin. Tidak sama dengan penampilan ketiga laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan adalah gerombolan mereka, dilihat dari tampangnya yang tetap lugu. Ia tetap mengenakan seragam suatu  sekolah Katolik yang langsung bisa aku kenali sebab terbukti khas. Tetapi entah mengapa dirinya bisa berteman dengan orang-orang ini.

Dino bertepuk tangan. Kemudian menawarkan diriku dengan mereka. Yos, dan Bram seperti tipikal orang sebangsa Dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu bernama Shelly. Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata “lapar” membikin aku tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan ini.

Tampak tidak sabaran Dino luar biasa diriku ke loteng. Langsung menuju suatu  kamar yang ada di ujung. Kamar itu tidak berdaun pintu, sebetulnya lebih cocok disebut ruang penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya adalah pintu tembusan ke ruang lain.
Di sana ada suatu  kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. Dengan sprei yang telah acak-acakan. Di aspek tersedia dua buah kursi sofa besar dan suatu  meja kaca yang mungil. Di bawahnya berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membikin orang merinding. Berfoto perempuan-perempuan telanjang.

Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui Dino di kamar ini. Aku beranjak ke jendela. Menutup gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap. Tetapi tidak lama, sebab kemudian Dino menyalakan lampu. Aku berputar membelakangi Dino, dan mulai melucuti pakaian yang aku kenakan. Dari blouse, kemudian rok bawahanku kubiarkan meluncur leluasa ke mata kakiku. Kemudian aku memutar balik badanku berbalik menghadap Dino.
Betapa terkejutnya aku ketika aku berbalik, nyatanya di hadapanku saat ini tidak hanya ada Dino, tetapi Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan. Dengan gerakan reflek, aku menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.
“Ayolah Winda, Toh engkau juga telah tidak jarang menunjukan tubuh telanjangmu terhadap beberapa laki-laki lain?”.
“Tidak lebih ajar kau Dino!” Aku mengumpat sekenanya.

Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius. Dengan tatapan yang sangat tajam dirinya berujar, “Apakah engkau punya opsi lain? Ayolah, lakukan saja dan setelah berakhir kami boleh melupakan kejadian ini.”
Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum sempat aku lakukan sebelumnya. Apalagi orang-orang yang bertampang seram seperti ini. Tapi seperti yang dirinya bilang, aku tidak punya opsi lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membikin aku pusing. Tubuhku tanpa sadar hingga gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya aku telah kehabisan tenaga sebab digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum mengawalinya.

Akhirnya, dengan sangat berat aku menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana aku bisa meraih kaitan BH yang aku pakai. Baju yang tadi aku pakai untuk menutupi tahap tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur leluasa dan sebelum terjatuh ke lantai kulemparkan benda itu ke arah Dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium tahap dalam mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.
“Harum!”, katanya.
Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.
“36B!”, katanya pendek.
Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.

“BH-nya saja telah sedemikian harum, apalagi isinya!”, katanya seraya memberbagi BH itu terhadap Maki jadi laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu. Tetapi demikian mata mereka tidak sempat lepas menatap belahan payudaraku yang saat ini tidak tertutup apa-apa lagi.
Aku saat ini hanya berdiri menantikan, dan tanpa diminta Dino melangkah mendekatiku. Ia meraih kepalaku. Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku saat ini tergerai leluasa hingga ke punggung.
“Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!”
Ia terus berlangsung memutari tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia sibakkan rambutku dan memindahkannya ke depan lewat pundak sebelah kiriku, jadi tahap punggung hingga ke tengkukku leluasa tanpa penghalang. Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku. Lidahnya menjelajah di kurang lebih leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku saat ini mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas. Aku tetap menanggapinya dengan dingin dengan tidak bereaksi sama sekali tidak hanya memejamkan mataku.

Dino rupanya tidak begitu suka aku bersikap pasif, dengan kasar ia luar biasa wajahku hingga bibirnya bisa melumat bibirku. Aku hanya berdiam diri saja tidak memberbagi reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika sukses lidahnya bergerak leluasa menjilati lidahku hingga dengan cara tidak sengaja lidahkupun meronta-ronta.
Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh. Tidak ada gunanya aku menolak, faktor itu bakal membikinku lebih menderita lagi. Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku sambil sekali-sekali bunda jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku akhirnya bobol juga. Terbukti, aku telah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Dino mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan saat ini aku mulai memberanikan menggerakkan tangan meremas kepala Dino yang berada di belakangku. Sementara dengan ekor mataku aku melihat Maki beranjak berlangsung menuju sofa dan duduk di sana, sambil pandangan matanya tidak sempat lepas dari kami berdua.

Mungkin sebab merasa telah menguasai diriku, ciuman Dino terus merambat turun ke leherku, menghisapnya hingga aku menggelinjang. Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan hingga akhirnya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku, Dengan satu remasan yang gemas hingga membikin puting susuku melejit Dino untuk mengulumnya. Pertama lidahnya cocok menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum mulutnya mengenyot habis puting susuku itu. Ia menghisapnya dengan gemas hingga pipinya kempot.

Tubuhku dengan cara tiba-tiba bagaikan disengat listips, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit nyeri di tahap itu. Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan oleh Dino. Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan lidah Dino yang kasap. Dipilin-pilinnya kesana kemari. Dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat hingga putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan luar biasa kepalanya jadi terus membenam di kedua gunung kembarku yang putih dan padat. Aku sungguh tidak tahu mengapa wajib begitu pasrah terhadap lelaki itu. Mengapa aku justeru tenggelam dalam permaianan itu? Semula aku hanya merasa terpaksa demi menutupi rahasia atas lakukananku. Tapi kemudian nyatanya, permainan yang Dino mainkan begitu dalam. Dan aneh sekali, Tanpa sadar aku mulai mengikuti permainan yang dipimpin dengan cemerlang oleh Dino.

“Winda…”, “Ya?”, “Kau suka aku perlakukan seperti ini?”. Aku hanya mengangguk. Dan memejamkan matanya. membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, merasakan nikmat yang luar biasa. Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja telah berubah membengkak, keras dan mencuat terus runcing.
“Hsss…, ah!”, Aku mendesah saat merasakan jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku. Dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika telah terasa basah jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.

Dalam posisi tetap berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, Dino meneruskan aksinya di dalam liang gelap yang telah basah itu. Makin lama makin dalam. Aku sendiri terus menggelinjang tidak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar. Bahkan kadang-kadang mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga. Dan yang membikin aku tambah gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang menyetubuhiku. Aku tidak kuasa untuk menahan diri.

“Nggghh…!”, mulutku mulai meracau. Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga akhirnya akupun tidak kuasa menahan tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu saat ini tiba-tiba saja Dino telah berdiri telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri mengangkang persis di depanku jadi wajahku persis menghadap ke tahap selangkangannya. Disitu, aku melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam yang lebat di daerah pangkalnya.

Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati daerah di bawah perutnya itu. Aku tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini adalah lakukanan yang sangat disukai para lelaki. Di mana ketika aku melakukan oral seks terhadap kelaminnya.
Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang wajib kulakukan. Benda itu telah masuk ke dalam mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan suatu  topi baja itu. Lalu berhenti ketika menemukan celah yang berada persis di ujungnya. Lalu dengan segala performaku aku mulai mengelomoh batang itu sambil kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat jadi pemiliknya bergetar luar biasa menahan rasa yang tidak tertahankan.

Pada saat itu aku sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan nyatanya laki-laki ini telah mulai terbawa nafsu menyaksikan lakukanan kami berdua. Buktinya, ia telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah. Konsentrasiku buyar ketika Dino luar biasa kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya. Ia lalu luar biasa tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seolah-olah ia takut aku bakal memakainya kembali.
Untuk beberapa detik mata Dino nanar memandang tahap bawah tubuhku yang telah tidak tertutup apa-apa lagi. Si Makipun hingga berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan.

Tetapi beberapa detik kemudian, Dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang telah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga aku menggelinjang dan memejamkan mata.
Sedetik kemudian, aku merasakan ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ. Seperti biasanya, aku tidak kuasa untuk menahan jeritanku pada saat pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.

Dengan perlahan tetapi pasti, kejantanan Dino meluncur masuk terus dalam. Dan ketika telah masuk setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan kasar hingga aku sangatlah berteriak sebab terasa nyeri. Dan seusai itu, tanpa memberiku peluang untuk membiasakan diri dulu, Dino telah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.

Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga aku mem*kik keras setiap kali kejantanan Dino menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Tetapi bercampur nikmat yang tidak terkira. Ada sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu aku juga merasakan rasa nikmat yang tidak terkira. Tetapi aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku hingga menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali Dino menghunjam, tapi aku terus mempererat pelukanku, Pedih, tapi aku juga tidak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.

Aku terus merintih. Air mataku meleleh keluar. kami terus bergulat dalam posisi demikian. Hingga tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku telah orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang aku benci. Tubuhku mengejang selagi beberapa puluh detik. Sebelum melemas. Tetapi Dino rupanya belum berakhir. Ia saat ini membalikkan tubuhku hingga saat ini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku. Ia ingin meneruskannya dengan doggy style. Aku hanya pasrah saja.

Kini ia menyetubuhiku dari belakang. Tangannya saat ini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Saat ini Dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan terus kasar.
Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku. Laki-laki ini juga telah telanjang bulat. Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.

Kini aku melayani dua orang sekaligus. Dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang. Dan Maki yang sedang memaksaku melakukan oral seks terhadap dirinya. Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku. Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. Dengan dua orang yang mengeroyokku aku sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku merasa sangat terangsang dengan posisi seperti ini.

Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu bakal menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya terus menghunjam. Kadang-kadang aku hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesusahanku mengalah dan hanya diam saja. Dino yang mengatur segala gerakan.
Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks nyatanya mengdampakkan diriku melambung di luar batas yang sempat kuperkirakan sebelumnya. Dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti. Aku mengalami orgasme yang datang dengan beruntun seperti tidak berketelahan.

Tidak lama kemudian Dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke dalam liang vaginaku. Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku. Aku bisa merasakan air mani yang disemprotkannya tidak sedikit sekali, hingga sebagian meluap keluar meleleh di salah satu pahaku. Setelah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan Dino. Tetap dalam posisi doggy style. Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali hingga menyentuh bibir rahimku. Ia bisa mudah melakukannya sebab terbukti liang vaginaku telah sangat licin dilumasi cairan yang keluar dari dalamnya dan telah bercampur dengan air mani Dino yang sangat tidak sedikit. Permainan dilanjutkan. Aku saat ini tinggal melayani Maki seorang, sebab Dino dengan nafas yang tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga. Aku mengeluh singkat setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki terus memacu gerakkannya. Terus lama terus keras dan kasar hingga membikin aku merintih dan mengaduh tidak berketelahan.

Pada saat itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi, mereka pun langsung melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Lalu mereka duduk di lantai dan melihat adegan mesum yang sedang terjadi antara aku dan Maki. Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi aku telah tidak peduli lagi. Maki terus memacu menggebu-gebu. Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.

Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada saat itu Bram dengan tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku. Aku telah setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti tubuhku. Kondisiku telah sedemikian acak-acakan. Rambut yang kusut masai. Tubuhku telah bersimpah peluh. Tidak hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang bergantian menggauliku. Aku saat ini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-goyang di atasnya.
Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan miliknya ke dalam milikku. Sementara Bram tidak sempat memberiku peluang yang lumayan untuk bernafas. Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku. Aku sendiri telah tidak bisa mengotrol diriku lagi. Guncangan demi guncangan yang didampakkan oleh gerakan Titolah yang membikin Bram makin terangsang. Bukan lagi kuluman dan jilatan yang wajibnya aku lakukan dengan lidah dan mulutku.

Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga aku berteriak mengaduh kesakitan. Lalu beberapa hari kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku. Dan pada saat hampir bersamaan Bram juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang tetap berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat. Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, tetapi tangan Bram yang kokoh tetap menahan kepalaku dan aku tidak kuasa meronta lagi sebab terbukti tenagaku telah hampir habis. Cairan kental yang hangat itu akhirnya tertelan olehku. Tidak sedikit sekali. Bahkan hingga meluap keluar membasahi daerah kurang lebih bibirku hingga meleleh ke leher. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, tidak hanya dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, tetapi ada sensasi aneh yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat erotis merasakan siksa birahi seperti ini hingga akupun akhirnya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.

Dengan ekor mataku aku kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang nyatanya si bule dan orang itu juga mulai membuka celananya. Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku. Pasrah.
Tidak lama kemudian seusai orang terbaru melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar. aku merasa seluruh tubuhku luluh lantak. Seusai sukses mengumpulkan lumayan tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, aku bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaianku apa adanya dan berangkat mencari kamar mandi.

Aku berpapasan dengan Dino yang timbul dari dalam suatu ruangan yang pintunya terbuka. Lelaki itu sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya. Tetap sempat terkesan dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak cepat. Memacu naik turun. Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu berhidup sama seperti diriku.
“Di mana aku bisa menemukan kamar mandi?” tanyaku pada Dino.
Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke suatu  pintu. Tanpa basa-basi lagi aku segera beranjak menuju pintu itu.

Di sana aku mandi berendam air panas sambil mengangis. Aku tidak tahu saya telah terjerumus ke dalam apa kini. Yang membikin aku benci terhadap diriku sendiri, mesikipun aku merasa kecewa, kesal, marah bercampur menjadi satu, tetapi demikian setiap kali teringat kejadian barusan, langsung saja selangkanganku basah lagi.
Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Seusai terasa kepenatan tubuhku agak bertidak lebih aku menyudahi mandiku. Dengan berlangsung tertatih-tatih aku melangkah keluar kamar mandi dan berlangsung mencari pintu keluar. Telah hampir jam sebelas malam ketika aku keluar dari rumah itu.

Sampai di dalam rumah, Aku langsung ngeloyor masuk ke kamar. Aku tidak peduli dengan kakakku yang terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, aku tidak menyapanya sebab terbukti telah tidak ada keinginan untuk berkata lagi malam ini. Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu, kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.